Sabtu, 14 Juli 2018

Random

memang benar, bahwa usahaku.
bahwa perjuanganku,
bahwa besarnya keinginanku,
dalam melupakanmu,
hanyalah setitik embun pada pagi hari.
Tak bermakna,
Tak berarti.
Bahwa semua itu, hanyalah berada dalam jawaban waktu.
Windu apa yang kusebut lama?
Ketika waktu demi waktu terhabiskan karna perjuanganku melupakanmu.
Tahun demi tahun apa yang kau selalu ada?
Walau meski hanya dalam benak, tapi percaya tak percaya kau selalu ada disana.
Melupakan dan berpindah apa yang selalu kusebut sempurna?
Ketika bahkan seluruh semesta yang mematahkan kesempuranaan itu.
Ketika waktu,
Ketika detik,
Sampai kapan aku terus menjadi penghitung?
Menghitung pada detik yang mana benak ini tak lagi memikirkanmu.
Pada menit yang mana hati ini tak lagi terpenjara dalam menginginkanmu.
Perlawananku begitu sengit.
Melawan semesta yang selalu mengirimkan kicauan tentangmu tepat ditelingaku.
Melawan semesta yang apa-apa selalu ada tentangmu.
Melihat bukupun adalah tentangmu.
Gambar seni adalah dirimu.
Lalu sampai detik kapan aku bisa kembali membuka perasaan?
Aku tak pernah mengharap penggantimu.
Benar sekali bahwa tak ada yang sanggup menggantikanmu.
Tapi apakah salah jika aku berandai untuk melupakanmu?
Setidaknya sanggup bersama semesta yang tak lagi tentangmu.
Buku dan seni yang tak lagi mengingatkanku tentangmu?
Disaat raga dan mimpimu semakin jauh,
bawalah rasa ini bersamamu.
Rindu ini bersamamu.
Segala memori tentangmu.
Selagi perjalananmu meraih mimpi,
Selagi perjuanganku juga meraih mimpi,
Kuharap kita bisa saling mengerti,
Maksudku - aku bisa lebih mengerti,
Bahwa takkan bisa aku memiliki,

Padamu yang hanya sebatas mimpi.
setelah begitu lama cuti menulis,
finally im back!

Selasa, 01 Mei 2018

Satu tahun

Kembali lagi,
Mimpiku,
Kembali lagi.

Sewindu rasanya melalui hari-harinya.
Terlalu berat.
Bahkan semakin berat.
Setiap detik yang menghempaskan.
Menenggelamkan.

Aku, dan mimpi-mimpiku.
Rindu-rinduku.
Perlawananku.
Seakan terus menghantuiku.

Setahun sudah,
Kegagalan terus menggerogotiku.
Tatapan orang adalah celaan menurutku.
Ucapan mereka adalah hinaan kepadaku,
Setidaknya begitulah melalui sudut pandangku.

Setahun sudah,
Ayah,
Ibu,
Saudaraku,
Setahun sudah,
Aku berjuang.
Melawan diriku sendiri.
Melawan takdirku sendiri.
Membohongi hatiku sendiri.
Mimpi-mimpiku yang sempat tertunda,
Kembali menggangguku akhir-akhir ini.

Mimpiku,
Jermanku,
Bahkan setahun sudah.
Sahabat-sahabatku ingin membenarkan kesalahannya tahun lalu.
Kembali mengikuti tes,
Mencoba memberhasilkan kegagalannya dimasa lalu.

Lalu apakah aku?
Ketika mimpiku sedang bertengger menungguku dilangit,
Aku lupa caranya untuk terbang.
Aku,
Lupa bagaimana caranya berjuang.
Mimpi-mimpiku,
Yang sejak dahulu tak pernah kuanggap beban,
Bahkan selalu kuanggap peluang,
Kini yang melemahkanku selemah-lemahnya.
Kulupa pertarunganku,

Setahun sudah,
Kugenggam mimpiku,
Kutahan,
Kupendam,
Kering sudah,
Air mataku.

Tapi, tidakkah cukup setahun aku selemah ini?
Bukankah peluangku masih menungguku diluar sana?
Keluarkan aku dari jerujiku.
Bebaskan aku dari sangkarku.
Izinkan aku kembali terbang,
entah tak papa
Meski tahun ini tak lagi takdir jermanku menghampiriku,
Meski kegagalanku terulang kembali,
Meski keringatku kering dan tak ada sesuatu yang terjadi.
Keikhlasan selalu melekat bersamaku.

Setidaknya,
Perjuangan adalah kebiasaanku.
Sakit yang tak berdarah, sudah kebal aku dengan itu.
Kekalahan adalah pelajaran bagiku.
Kekalahanku, menguatkanku.

Entah hanya aku dan Allah yang tahu,
Seberapa besar keyakinanku terhadap :
"Apapun yang sudah ditakdirkan untukmu, selamanya meski seribu tahun, takkan melewatkanmu."

Entah apa mungkin tak ada keraguanku terhadap,
Sesuatu yang bukanlah mimpiku adalah yang akan membawaku pada sesuatu yang lebih baik.

Kali ini, 
Padamu para pemimpi diluar sana, 
Para petarung,
Para pejuang,
Terserah keadaanmu meski kau sudah lelah atau kau masih kuat untuk berjuang,
Percayalah sahabat.
Allah tak pernah, 
Sekalipun,
Sedetikpun,
Tak semenit,
Bahkan tak terhitung,
Meninggalkanmu.
Kawan,
Air matamu, adalah mutiara.
Menangislah! 
Berteriaklah!
Izinkan penjuru langit mendengarmu,
Berisaklah,
Yakinlah pada ketentuan yang telah ditetapkan padamu.
Mimpimu yang besar itu,
Mimpimu yang kau anggap indah itu,
Tak pernah,
Tak akan pernah mengalahkan besarnya cinta Allah padamu.
Menangislah dihadapan tuhanmu,
Kau lemah sedangkan Dia-lah yang Maha Kuat.
Kau tak memiliki apapun sedangkan kaulah hamba yang Maha Memiliki.
Lalu apa yang perlu kau takutkan?
Apa yang kau ragukan?

Menangislah dihadapan tuhanmu,
Dan jadilah petarung terkuat dihadapan hamba-hambanya.
Deraskan derai air matamu, dihadapan tuhanmu.
Dan jadilah yang terbaik dihadapan hamba-hambanya.

Kegagalan tidak menjadikan kau seseorang yang lemah,
Keberhasilan tidak membuatmu menyandang gelar kuat,
Keikhlasanmulah yang menentukan kau berada dimana.
-S

Kucintai kegagalanku, Kubangga dengan kekalahanku.
Aku belum sedewasa itu,
Sehingga Allah mengajarkanku ikhlas,
dengan menjadikanku gagal.
Allah menjadikanku pemenang,
dengan menjadikanku kalah.
-Petarung amatiran yang baru mengenal medan tempur.


Rabu, 28 Maret 2018

Mimpi

barusan kulihat ada post dari PPI jerman, ternyata ungkapan pemimpi yang bermimpi kuliah dijerman.
camkanlah,
mimpi besarmu tak mengalahkan besarnya tekadmu.
jauhnya jermanmu tak menghentikan perjuanganmu.
air matamu, keringatmu, sujudmu, niatmu,
akan terbalaskan oleh indahnya mimpi-mimpimu.
salam untukmu, saudara.
kepakkan sayapmu, terbang menuju mimpimu,
lanjutkan perjuanganku yang untuk saat ini kutunda dulu.
perjuangkan mimpimu,
selagi kuperjuangkan milikku.

sampai bertemu pada satu siang di tembok berlin, Berlin, Jerman.

Jumat, 19 Januari 2018

kegundahanku siang ini

lagi,
jermanku 
mimpiku
menjadi kegundahanku
memberatkanku
namun sekaligus menyadarkanku
duhai mimpiku,
tetaplah 
jangan berubah
karna engkau motivasiku
untuk terus berjuang 
mempertahankanmu
mewujudkanmu
salam rindu,
dari seorang pemimpi.

Kamis, 10 Agustus 2017

puisiku malam ini

baru kusadari, bahwa kita pernah sedekat nadi sebelumnya.
kita, dan tentang kita.
kemarin kita, yang saling menggengam.
berharap akan rasa.
memeluk tatap.
kumengerti sekarang, mengapa mereka berkata rindu itu sulit.
rindu itu berat seperti kata dilan.
kuharap kau sepertinya, mengerti bebanku akan rindu.
mengajakku berhenti merindu.
mengingatkankanku tentang masa lalu.
yang belum terlalu jauh untuk berlalu.
kau, dan aku, aku dan mereka, kau dan mereka,
terlalu berat untuk kugambar di aksara.
harapan yang selama ini menjadi tempat kita saling berdiri,
mungkin kita sedang bermain-main dengan takdir.
menunggu takdir kapan akan menunjukkan tombaknya pada kita berdua.
tentang sepasang rindu yang tak saling bertemu
tidak saling berucap
tapi saling mengenal
tidak saling menyentuh
tapi tetap menggenggam
tidak saling bertemu
akan tetapi saling memeluk 
satu
dan yang lain
kau,
entah itu aku
entah itu siapa
kita bagai pelangi, terlalu berwarna, sulit saling mengerti.
sepasang matamu memberi rasa, tapi tidak dengan ucap di bibirmu.
mungkin inilah sebuah lembaran kita, yang mungkin tak lagi saling menyatu
meski sebelumnya pun kita tak pernah seperti itu
tak pernah kusangka, kita pernah sedekat itu kemarin.
seerat itu kemarin.
sehangat itu kemarin.
begitu rindu aku dengan kemarin,

namun apalah aku, yang hanya pandai merindu keterlambatanku

Minggu, 30 Juli 2017

The Feelings


Maafkan ketidakpekaanku, yang tak mengerti rangkaian tanda tanyamu.

Aku, terlalu dungu untuk urusan cinta.
Terlalu dangkal tentang hal itu.
tentangmu, dan segala warna-warni dan juga keabu-abuanku.
aku, tak mengerti warna apa yang sedang kau gambarkan.
kata apa yang ingin kau ucapkan,
perasaan apa yang ingin kau utarakan.
meski kuulang berkali-kali, nyatanya aku masih belum memahamimu.

Pesanmu senja itu,
cukup singkat untuk membuat cabang dipikiranku.
sebuah rangkaian yang menawarkanku terlalu banyak rasa yang tak kumengerti arahnya.
sebuah kata yang hadir sebagai teka-teki besar yang tak kutemukan jawabannya.

Pahamkan aku tentangmu.
Ajarkan aku menjawab pertanyaanmu.
Beritahu aku caranya mengerti perasaanmu.
Sebagaimana kau telah membuatku mengetahui cinta,
tapi tak mengerti tentang halnya.
Pandaikan aku akan hal apapun, asal tidak kau paksakan aku pandai untuk melepaskan,
sesuatu yang tak pernah kumiliki sebelumnya.

untuk diriku,
maaf terlalu memaksa keadaan untuk kau tidak jatuh cinta sekali lagi.
ini semua untuk menghidari kau tidak terluka untuk yang kedua kali, lagi.


--

Jumat, 12 Mei 2017

complete

tentang dia yang dulu.
orang-orang berkata, lupakan masa lalumu.
tapi tidak denganmu.
mungkin kau sudah lampau.
mungkin kau sudah menjadi yang dulu.
menjadi sebuah kenangan tentang masa lalu.
tentangmu, yang dulu pernah menjadi yang selalu kusebut.
kurindu.
kucinta.
kudamba.
tentangmu, yang entah dimana kau berada.
waktu berjalan tidak sebegitu cepatnya.
karna kemungkinan besar, meski tak cepat,
kau sudah tergantikan.
oleh siapa?
lupakanlah.
aku tak ingin berbicara tentangnya saat ini.
kuspesialkan, hanya untukmu saja hari ini.
terkadang rindu itu datang.
terkadang wajahmu kembali berbayang.
terkadang kenangan itu bermunculan.
satu persatu,
bagaikan sebuah film 90an yang kembali ditayangkan pada era 2000an ini.
sebegitu indahnya kah perasaanku pada masa lalu hingga bahkan pikiran inipun masih terbayang olehmu?
ini sudah bertahun-tahun lamanya, tapi tak terasa selama itu untuk menunggumu.

tapi tolong, jangan menganggap perkataan tadi adalah sebuah harapan terhadapmu.
tapi maaf, kali ini hati ini sudah menemui pemiliknya yang baru.
maaf jika engkau merasa tersingkirkan,
bukannya engkau deluan yang melakukan?
tolong sekali lagi, itu bukan makna balas dendam,
tapi hanya mengingatkan jika tulisanku tak lagi untukmu dihari kedepannya.
entah untuk apalagi aku menulis,
tapi, kau perlu mengingat sesuatu,

aku tak membutuhkanmu untuk menulis cerita manis lagi kedepannya.
dan kisah ini kututup rapat.
terima kasih sudah mengajarkanku tentang cerita romantis dan manis beberapa tahun yang lalu.
meski menurut orang lain tak ada manisnya, tapi sejujurnya,
itu sangat manis bagiku.