Minggu, 23 April 2017

Keyakinanku.

apakah memang pada akhirnya mimpi-mimpi para pemimpi harus dilepaskan begitu saja?
apakah memang harus seperti itu?
mengorbankan mimpi sang pemimpi, demi kebahagiaan orang-orang yang begitu dicintainya?
bahkan melewatkan kebahagiaan sang pemimpi sendiri?

kejam.
keras.
jahat.
itulah dunia yang sedang dihadapinya saat ini.
diambang batas antara ingin berlari,
atau entah ingin mati saja yang ia pikir lebih baik.
tak ada yang mengerti padanya.
tanpa terkecuali dirinya sendiri.

sakit.
begitu rasanya, ketika mimpi yang kau genggam sebegitu beratnya,
harus kau lepaskan begitu saja.
andai saja mereka mengenal arti sejati dari mimpi itu.
mereka akan menangis-sejadi-jadinya hanya untuk menyeret sang pemimpi pada gerbang Jerman tersebut,

andai saja.

tapi, mereka tak pernah mengerti.
mereka hanya tahu tentang ego masing-masing.
tak tahu, alasan apa yang mendasarkan mereka sangat berat melepaskan,
alasan apa yang membuat mereka menguntai belasan alasan demi menghentikan langkah pemimpi itu.

andai mereka tahu,
seberapa banyak air mata,
cucur keringat,
andai mereka bisa merasakan,
seberapa sakit darah meski tak berdarah tersebut,
dengan merangkakpun, mereka tetap menyeret pemimpi itu  untuk ke gerbang kesuksesannya.

Sayangnya,
mereka tak pernah mengerti.
entah, hanya untaian doa yang akan membuat mereka mengerti.
Yang dapat dilakukan hanyalah meminta.
pada Yang Maha Memiliki.
Maha Berkehendak.
Maha Menciptakan.
Pencipta Bumi dan Langit.
Meminta agar segera, ia menghentakkan  kakinya pada belahan bumiNya yang lain.

Saat ini,
Jakarta, 24 April 2017.
12.28.27 AM.
sekalipun takkan gentar niatku,
untuk menyatakan mimpiku.
takkan kulepaskan.
lihat saja bagaimana nanti akhirnya,
setidaknya saya takkan rela menyerah terhadapnya,
tapi hanya Allah swt yang akan menentukan.
dan saya yakin, Dia yang paling mengerti,
paling tahu,
paling mengenal.
apa yang terbaik bagi hambaNya
dan mengetahui betul,
seberapa besar perjuangan kerasku untuk mimpi ini.
Saya yakin,
Allah takkan menyia-nyiakan pengorbananku.
Entah jika mimpi itu akan menjadi nyata atau tidak,
saya percaya :

"Apapun, jika Allah telah men takdir kannya untukmu, bahkan ketika langit dan bumi pun mencoba menghalangimu, bahkan ketika mataharipun ingin menghentikanmu, bahkan ketika lautanpun tak mendukungmu, bahkan ketika ratusan hingga ratusan tahunpun. takdir itu tetap terjadi padamu."

saya yakin.
saya yakin.
saya yakin.


suci sultan, sang pemimpi yang sangat ingin merasakan indahnya
rasa "akhirnya, setelah banyak perjalanan yang kulalui,
mimpi ini pun jadi nyata."

sekian, 
assamualaikum.


Kamis, 16 Maret 2017

Lembaran Baru

jika mungkin sanggup diperumpamakan, mungkin aku adalah sebuah patung beberapa hari belakangan ini.
hanya saja patung yang tak diam setiap saat dan mampu berbicara.
Tapi sebagian besar mungkin kami hampir sama.
cuma mengetahui diam dan tak mengenal rasa.
namun entah mengapa, entah kapan,

patung itu mulai mengenal rasa.

pernah terbersit meski hanya sementara, ingin kembali padamu.
ya, engkau yang dulu.
karna alasan bahwa aku sudah terlalu terbiasa dengan rasa yang mulai hambar terhadapmu, mungkin?
tapi tak tahu, ataukah mungkin tuhan memang menggariskan seperti itu,
timbul rasa baru terhadap seseorang yang baru.

tak ada yang menyangka, sang penulis...
menemukan lembaran barunya.
buku barunya,
halaman,
isi,
bab,
sampul,
semuanya baru.
tak sedikitpun lagi menjadi chapter lanjutan dari buku lamanya.

betapa beruntung,
seseorang yang sanggup membuat sang penulis kembali jatuh hati.
kembali mencintai,

entah siapa lembaran baru itu,
hanya menjadi rahasia antara si penulis, tuhan, dan setiap untaian katanya yang tahu.
tapi satu hal yang ingin penulis itu ucapkan,

sekali kau membuat seorang penulis mencintaimu, namamu akan abadi disetiap tetesan penanya,
.

rahasia tuhan jika memang lembaran baru itu akan abadi.
tapi sang penulis hanya mampu berharap,
agar kisah barunya ini,
dapat menjadi kisah terbaik diantara semua kisah yang pernah ia tuliskan sebelumnya.

semoga saja, Allah menggariskannya seperti itu.

xoxo.

p.s : karna berhubung memang saya punya kisah baru, saya akan mengganti nama blog ini dari sucisultan.blogspot.com menjadi pasukanhujan.blogspot.com

happy reading!
xx

Sabtu, 11 Maret 2017

compliqué

Pernahkah kau merasa mekarnya bunga  ketika sedang jatuh cinta?
Pernahkah kau merasa indahnya rasa kupu-kupu yang beterbangan ketika merasakan cinta untuk kedua kali?
Lalu saat setelahnya,
Kau mulai merasa tak pantas terhadapnya
Dan merasa ia tak pantas pula terhadapmu
Dunia seakan menjadi tak masuk akal
Kupu-kupu terbang entah kemana
Bunga-bunga layu entah kenapa
Detik bagai hari yang begitu panjang
Disaat
Bahkan kau merasa begitu muak
Menyesal
Telah mengizinkannya
Cinta baru
Yang bahkan belum kau proklamasikan kejelasannya
Membuatmu berharap melupakannya
Karna ia lebih pantas bersama bunga lain yang sedang bermekaran padanya
Dengan kupu-kupu yang menanti kehadirannya.
Pernahkah?
Sesakit itukah?
Melepaskan sesuatu yang bahkan tak pernah kau genggam sebelumnya?
Mengucapkan selamat tinggal bahkan
Bahkan…
Sebelum kau mengucap selamat datang padanya.

Maka dari itu,
Saya memilih mundur. Meski saya
Baru selangkah maju.

-unknown

Sabtu, 11 Februari 2017

Proklamasi Kemerdekaan

11 februari
Dengan berani kulantangkan suaraku, mengucap sanggup melupakanmu.
Dengan tangguh kuacungkan tanganku, melambai menjauhimu.
Itulah bagian dari sesi proklamasiku.

Merdeka dari rindu tentangmu.
Merdeka dari pikiran tentangmu.
Merdeka dari rasa kepadamu.
Berdamai dengan rasa tentang masa lalu
Merdeka...
dari segala jajahanmu.

Lepas dari semua hal tentangmu.
Meninggalkanmu ditumpukan buku yang akan berdebu dan usang.

Kembali memberanikan diri membuka lembaran baru.
Kembali mencoba menulis kembali tentang hal baru.
Tak ada lagi tentangmu.
Tentangmu yang mulai hari ini menjadi yang 'pernah' tercatat dilembaran lamaku.
Tentangmu yang kuhapuskan dihari-hari kedepanku.
Tentangmu yang cukup kujadikan lampau.
Tentangmu yang akan kulupakan.

Tentangmu,
Yang mungkin akan menyesal setelah membaca proklamasiku ini.
Menyesal mungkin kau telah menyia-yiakan seseroang yang 'pernah' menyayangimu yang tak tertandingi tulusnya.
Menyesal mungkin kau tak sepeka saat itu ketika mencampakkan orang yang tak berujung pedulinya terhadapmu.
Menyesal mungkin kau akan kehilangan seseorang yang telah menyerahkan seluruh hatinya, masa depannya, cintanya hanya demi sedetik melihatmu.

Mungkin kau akan menyesal,
ketika kau menyadari tak ada lagi ruang untukmu disisi hatinya.
Tak ada senyuman tulus,
pertemuan kupu-kupu,
rindu,
dari orang itu.

Karna ketika kau telah menyadarinya sepenuhnya,
orang itu, telah menyadari sepenuhnya telah melepasmu.

Hari ini, kuproklamirkan
kemerdekaanku. Dari segala jajahan
tentangmu.
-orang yang merdeka.






p.s :
ini nyata.
saya memproklamirkannya.
p.s 2 :
saya akan kembali lagi setelah un. karna lagi sibbuuukk

Sabtu, 14 Januari 2017

Kembali Lagi

Jalanku tak pernah secepat ini,
Langkahku tak pernah selambat ini,
Perasaanku tak pernah seberantakan ini,
Sejak mata hitam kelam itu,
Kembali pada pelukan mata sayup yang hampir selesai melepaskan pelukannya waktu itu.

Aku, begitu muak dengan waktu.
Tak tahu siapa yang ingin kusalahkan pada perjalanan kesibukanku kali ini,
Kau, ataukah waktu.
Mengapa diputarannya, lagi-lagi terselip tentangmu.
Mengapa disela kesibukanku,
Lagi-lagi ada wajahmu.
Lagi-lagi rasa itu.
Lagi-lagi harapan itu.
Lagi-lagi aku muak dengan hal itu.

Berwindu-windu aku mencoba melepasnya.
Bertahun-tahun aku mencoba melupakannya.
Namun mengapa? 
Diantara 3600 detik dalam satu jam,
86400 detik dalam sehari,
7 hari dalam seminggu,
Hanya sedetik.
Cukup sedetik.
Cukup satu kedipan mata.
Cukup satu pertemuan.
Bahkan itupun dalam keadaan penuh kegelapan.
Bahkan didetik itupun mataku tak kuasa menatapmu.
Bahkan....
Setelah tumpukan windu.
Setelah ratusan rindu.
Kulewati.

Aku berjuang melepasmu.
Melepaskan kita.
Merelakan kenangan.
Menghapus benciku padamu.
Benci tentang aku yang menggila tentangmu.

Mengapa...
Hanya sedetik itu, aku mampu melupakan perjuanganku.
Rasa yang telah kukubur lama. Rasa yang aku pernah tersiksa begitu lama.
Kembali lagi memenuhi seluruh ragaku.
Harapanku kembali lagi karna dentingan jaram detik setelah pertemuan menyesatkan itu.
Padahal disaat pada detik yang sama, engkau bahkan mungkin tak mengenaliku.
Yang detik setelahnya mungkin kau akan melupakan pertemuan itu.
Ada apa dengan ku?
Waktu begitu kejam terhadapku. Menyiksaku dengan rasa sepihak seperti ini.
Menghukumku dengan masa lalu yang tak pernah berhasil aku bebas darinya.
Merelakanku terjebak lagi pada resolusi yang pernah kulewatkan tahun lalu.
Membuatku tanpa sengaja membangun resolusi itu kembali.
Yaitu, melupakanmu.
Lagi dan lagi.
Entah 12 bulan lagi aku menunggu tentang menyelesaikan resolusi itu.
Entah berapa hari
Entah berapa minggu
Tahun, windu, dan selama apalagi waktu terus menyelipkan sedetik pertemuan itu.
Yang membuatku berjuang melupakannya dalam kurun waktu 12 bulan.
----
"Kutatap mata itu dalam cahaya remang,
tak kusangka aku tenggelam lagi dalam
gelapnya lautan kenangan tentangnya."
-saksi pertemuan singkat

Kamis, 15 Desember 2016

Unbrokenhearted.

Jika memang seperti ini akhirnya, aku lebih memilih patah hati.
Jika memang setelah kepergianmu kau memilih untuk kembali, aku tak pernah menyesal
dulu pernah mengucap selamat tinggal.
Jika memang kembalimu hanya untuk mengungkap senyummu tanpa kehadiranku, 
kuputuskan bahwa aku lebih bahagia tanpa kehadiranmu.
---

Langit kelabu menghiasi senjaku kala itu. Dengan setumpuk buku tebal yang bergelantungan dipergelangan tanganku, tas yang keberatan, dan juga raga yang mulai kelelahan, aku memasuki ruangan itu dengan senyum terbaikku. Tak ada yang menyangka detik selanjutnya ceria,tak lagi menghiasinya. 

Tubuh yang mematung.
Jiwa yang melayang entah kemana.
Rasa yang tak bisa ku ungkap dengan kata.

Melihatmu, berkaos abu-abu dengan tampang yang berani dan tak tahu malu.

Kau, kembali.
Memamerkan wajah yang 'dulunya' amat terangat sangat kurindu.

Hari itu, akupun menyadari tak ada lagi engkau yang kuinginkan kembali.
Aku berlari, begitu cepat.
Tak ingin lagi kutatap mata setajam elang itu.
Sedetikpun terasa sewindu ketika melihat wajahmu.
Kenangan itu, 
Sangat hangat diingatanku,
Waktu itu, kau begitu dekat.
Serasa tak ada jarak.
Tapi, diantara windu-demi windu yang kita ukir bersama,
ada jejakmu yang tak pernah hilang dari ingatan.
Ada langkahmu yang menjauh sebagai saksi perpisahan.
Rasa itu, Kehilangan itu, takkan kulupakan.
Bagaimana caramu pergi,
Bagaimanacaraku bangun kembali,
Bagaimana lelahku menghapus tangis,
Bagaimana rasa itu beranjak pergi,
masih jelas sekali dibenakku, bagaimana hancurku saat kehilanganmu.

Permainanmu,
Tak lagi menjadi penghalangku, 
Aku tak pernh mengharapkan endingyang bahagia yang akan berakhir bahwa kau kembali lalu melukis cerita kembali.

Yang kuharap hanyalah, aku mampu bangkit tanpa bayangmu lagi.

Tapi, hari itu.
Kehadiran singkatmu kala itu,
sejenak dapat menimbukan harapku.
walau hanya sedetik, aku sempat kembali bermimpi tentangmu.
Kutekankan pada kata 'sejenak' dan'sedetik' itu,
karna detik selanjutnya dan selang waktu selanjutnya,
keduanya semakin menghilang

Sebelum terbang terlalu tinggi, aku melepaskan sayap itu.
Sebelum berharap semakin jauh lagi, aku menghilangkan harapan itu.
Sayang teramat sayang, jika hal yang kau harapkan ketika kau kembali,
tak jalan dengan semestinya.
Maafkan aku, jika sikap diamku, adalah jawaban atas segala kepergian, dan juha kembalimu.
Maafkan aku, yang kini beranjak menjauhimu.

Maaf juga, jika kali ini
Aku berani menganggapmu hanyalah ;
'seseorang yang pernah aku kenal.'
Maaf, jika aku lebih memilih patah hati daripada kehadiranmu.
Karna patah hati itu, lebih setia darimu.
----
Sejak melihatmu dipotongan senja itu,
aku merindukan patah hatiku.
Karna ia lebih indah daripada mimpi yang 
hanya sebatas detik itu saja.
-(s)he

Minggu, 06 November 2016

Tetaplah tersenyum Indo Aji!

Minggu, 6 november 2016.
Indo aji, nenek terbaik yang tak pernah marah, terkuat, sabar, kembali kepadaNya. Menunggu pada kehidupan setelahnya,
Selamat jalan Indo aji,
Yang selalu pijit saat kelelahan, selalu mengingatkan ketika sholat, mengajar mengaji, selalu mengingatkan utk makan, sedih rasanya untuk melepasmu,
Sedih rasanya melihat tumpukan sarung mu yang tak lagi melekat ditubuh mungilmu,
Sedih rasanya tak melihat senyummulagi,
Satu satunya orang yangmemelukku ketika aku terjatuh,
Yang menyayangiku saat aku begitu membencinya,
Sedih,
Kau meninggalkan kami,
Selamat jalan,
Kau kembali padaNya,
Hari esok tak terhiasi lagi oleh senyum mu,
Hari esok tak ada lagi ocehan mu,
Tak ada lagi yang peduli sepertimu,
Tak ada lagi yang menyayangi seperti sayangmu,
Cintamu,
Kasihmu,
Sangat besar.
Rindu aku dengan pelukmu,
Rindu aku dengan terlelap disebelahmu,
Rindu aku makan bersamamu,
Apalah arti rinduku,
Tak lagi aku dapat berjumpa denganmu,
Hanya gambar senyummu yang tergambar disana,
Yang tak pernah akan menjadi dirimu,
Tak bisa lagi diriku menemanimu,
Semoga Allah selalu menyayangimu,
Membukakan surgaNya untukmu,
Memberikan yang terbaik bagimu,
Menyangimu sebagaimana besarnya sayangmu padaku.
Teruslah tersenyum Indo Aji, agar disini, dikehidupan ini, eppomu selalu tersenyum sebagaimana lebarnya senyum yang selalu kau tebarkan.