Jumat, 27 Mei 2016

Kali Kedua

Saat sang cupid gencar-gencarnya mengeker halauan panahannya, tak sengaja kilat menyambar sang cemeti malaikat.

Rupanya setelah hari silih berganti, ujung cemetinya menyerah dirasa yang sama.
Rasa tak menjanjikan kesamaan pada dua jiwa, namun tampaknya rasa ini lahir dari embrio yang identik dengan yang timbul padamu, Dulu.

Kali kedua, panah yang sama, rasa yang sama dan pada hati yang berbeda.

Pandangan yang dulunya selalu mencuri matamu, berulah dengan hal yang sama pada geriknya.

Mimpi indah yang dulunya terhias wajahmu, kini tergantikan olehnya.

Berlalu hingga lalu, kaulah itu.
Berlari hingga terlupakan, kaulah itu.
Pergi dan tak terindukan lagi, menghiasi bayangmu sekarang.

Tak adalagi serpihan kenangan terbersit karnamu yang tercecer disepanjang pikiran. 

Jiwamu telah melayang.
Terbawa angin hembusan yang mulai tergantikan olehnya.
Jiwanya telah datang.
Menggantikanmu dengan sejuta masa yang tak terbacakan.

Kau cukup dikenang.
Indahmu telah menyinariku dulu.
Pandangmu telah membuatku tersipu malu. 
Jikalau semuanya berulang kembali, takkan mungkin seindah dan tersipu dulu.

Beradalah kau ditempat nan jauh sekarang.
Kinilah dia yang berani melipat jarak hingga menghipnotis sang cupit yang menyingsingkan cemeti malaikatnya.

Kukatakan selamat pada kalian, yang pergi dan berlalu. Kau tetap kukenang, namun tak lagi kusayang.
Xoxo



Kamis, 24 Maret 2016

Choose?

Bukankah mudah jika kau harus memilih salah satu diantara malaikat dan iblis?

Namun anehnya, hal itu sangat sulit bagiku.

Bukan dalam memilih, tapi tetap bertahan dalam pilihan.
Munkin mudah jika hanya memilih karna bahkan orang terbodohpun tentu saja memilih sang malaikat kan? Tapi bagaimana ketika kau terpaksa harus mengikuti alur kehidupan dan jalanannya yang sama sekali tak pernah terbersit dipikiranmu untuk berjalan diatasnya?

Bagaimana jika hatimu jatuh pada sang Iblis?

Yang jahat dan hanya membawamu pada jurang kesialan? menenggelamkanmu pada lautan rasa sakit? Ya, meski kutahu sang "iblis" tak baik bagiku, belum tentu hati ini juga mengetahuinya. Belum tentu hati ini peka terhadap bisikan cintanya yang memabukkan. Sang iblis yang tak hentinya menjelma sebagai bayanganmu dipikiranku. Sang iblis yang mengatakan dirinya adalah Cinta.

Ya, rasa cinta yang kusebut iblis. Sifat mereka hampir sama, yaitu selalu menghantui. Layakmu yang selalu menghantui benakku. Layakmu yang selalu didekatku walau kutahu kau adalah dampak buruk bagiku. Selalu menjadi sarang sakitku. Pusat air mataku.


Hingga mungkin beberapa waktu lalu tuhan menemukanku dengan malaikat itu, yang dengan sayap dan cahaya dapat menyingkirkan bayangan hitammu yang selalu mengikuti. Dapat menjadikan masa depan hingga membuatku lupa akan masa laluku yang selalu didekatmu. 

Sang malaikat yang tak dapat kusangkal mungkin suatu saat dapat menjelma menjadi jelmaanmu yang sekarang. Layaknya dirimu yang dulu. But, who knows?

Bagaimana jika kau dipertemukan pada seorang malaikat,
yang memegang tanganmu saat hampir tenggelam pada pinggir lautan,
lalu membawamu terbang jauh, hingga kau lupa akan jauhnya daratan,
lalu dengan tanpa hati ia kembali menerjunkanmu
pada lautan yang lebih tenang dan dalam?
-pelukis lautan.

Kamis, 04 Februari 2016

Bersujud padamu pada belahan dunia yang lain

Madinah Al- Munawwarah

Selama 16 tahun kehidupan yang kulalui, tak pernah kulihat tempat yang melebihi indah nya tempat ini, tak pernah kurasa sejuk yang melebihi berada sini, jiwa yang tentram seakan berada ditempat yang begitu tenang.

Maha Kuasa pencipta-Nya, yang menciptakan kesejukan diantara teriknya matahari.

Masjid Nabawi, tempat yang tak kenal sepi dan tak pernah terlelap. Setiap detiknya selalu terdengar puji-pujian kepada penciptanya, terdengar isakan tangis tak kuat menahan rasa rindu pada Tuhannya, terdengar shalawat pada nabi nya.

Tempat yang tak pernah mengetahui kata kekeringan, setiap sisi didalamnya terdapat air zam-zam yang dibagikan secara percuma. Tempat yang luasnya bagai lapangan bola tak pernah kehabisan zam-zam walau telah dikonsumsi oleh ribuan manusia yang berbeda-beda asalnya.

India, Turki, Indonesia, Malaysia, Arab, Zudan dan semua tempat yang mungkin beberapa diantaranya tak diketahui namanya. Segala bahasa, adat, cara berpakaian bercampur baur didalamnya.

Namun, pada beberapa waktu mereka hanya menggunakan satu bahasa. Mereka yang memakai bahasa inggris, indonesia, malaysia, tak lagi memakai bahasanya saat waktu itu tiba. Yang mereka gunakan adalah satu, yaitu bahasa arab. Ketika waktu sholat telah tiba. Yang mereka ucapkan hanyalah bahasa al-quran. Bahasa para penghuni syurga.

Keindahannya tak sampai disitu saja, bahkan burung-burung pun berkicau memuji tuhannya. Beterbangan keseluruh penjuru mesjid Nabawi. Namun satu hal yang menjadi keajaiban, mereka tak mengganggu penduduk walau sedikitpun. Kotorannya tak ada yang terlihat mengenai jamaah.

Sungguh, tak ada tempat yang seindah Madinah. Bahkan hati yang begitu merindukan rumahnya pun, tak tega meninggalkan tempat ini. 

Semoga Allah dapat memanggil Suci Sultan agar dapat kembali ketempat ini. Terlalu banyak kesempatan yang terlewatkan. Pahala yang dihitung 1000derajat terbuang sia-sia. Semoga Allah mengizinkan agar dapat menginjakkan kaki Suci Sultan lagi ke Madinah Al- Munawwarah lagi, agar dapat memperbaiki kelalaian yang terjadi dimasa lampau. Semoga Allah menghendaki lagi Suci Sultan kembali Ke Madinah Al- Munawwarah lagi bersama keluarganya agar ia dapat mengenalkannya kepada Tuhan dan Rasulnya. Agar Rasulullah dapat mengenalnya dihari kemudian nanti dan menggandeng tangannya masuk menuju surga. 

"Tak ada tempat yang kurindukan begitu besarnya kecuali, Madinah Al-Munawwarah. Semoga Allah melimpahkan rezekinya kepada Kami agar dapat kembali memenuhi panggilannya untuk yang kedua kalinya pada ramadhan tahun 2016. Aamiin."




Jumat, 22 Januari 2016

2015-2016

11 Desember 2015
Makassar, Sulawesi selatan.

13 Desember 2015
Kediri, Jawa timur.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Ulangan semester hingga peristiwa bandara yang dimana keadaan yang memaksa untuk datang terlambat. Charger rusak yang membuat perjalanan menuju bandara terhenti sebentar. Namun takpapalah, itu hanyalah kesalahan yang biasa tetapi tetap menjadi kesalahan pertama.

Kurang lebih jam 3.00 kita (saya, rina, nicho & aan) tiba di Kediri, Jawa timur. Walau badan pegal sempit-sempitan dimobil, kita tetap fit dan semangat penasaran melihat bagaimana keadaan kampung inggris yang sebenarnya.

Jln. Brawijaya, kediri. Semuanya terlihat mencari, dimana letak tempat tersebut. Mulai dari pak supir, sampai om travel guide yang awalnya tak henti berbicara mengenai pengalamannya selama menjadi travelguide di Mekkah akhirnya diam. Antara diam karna lelah atau pening mencari letak kantor Maestro English Course yang tak kunjung kelihatan.

dua tiga empat, orang-orang berlalu lalang memakai sepeda yang bermacam-macam model dan warnanya. Ketika pertama kali menapakkan kaki di Kampung Inggris, Kediri basah terguyur hujan namun tak pula menyusutkan niat para pesepeda untuk berhenti dan berteduh.


Dengan lelah kami menyeret koper berat serta badan yang pegal kedalam kamar "kost" kami. Saat tiba tepat didepan pintu kost....Bukan, Saat pertama kali aku melangkahkan kaki menjauhi pintu rumah di Makassar, saat itulah aku menyadari akan ada banyak hal baru yang akan terukir ketika aku kembali.

-----

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Tanpa aku sadari, orang-orang pulang dan pergi. Mulai dari ka Apid, ka paad, rama, ka anggi, hingga... waktu kami tiba.

Singkat cerita, Tanpa  disangka sebulanpun berlalu. Tempat yang awalnya kuanggap adalah kesalahan untukku untuk pergi kesana, kini menjadi tempat yang akan sangat kurindukan. Setiap detik yang berlalu saat disana, setiap tawa yang terhias disana akan menjadi detik terindah untukku, akan menjadi tawa terbaikku.

Dan ketika aku mendepak koper, menutup pintu kost dan melambaikan selamat tinggal pada orang-orang disana, saat itulah pertama kali aku mengucap syukur untuk kesalahan ku.

Karna kita takkan pernah menyadari betapa indahnya setangkai bunga hingga ia menjadi layu. Sama halnya seperti kenangan, kita takkan menyadari indahnya hingga itu menjadi memori.

Orang-orang pergi dan datang
silih berganti, hingga tanpa menyadari
waktu kita telah tiba untuk pergi.

- Anonimous.

.

Minggu, 27 Desember 2015

Seniman Abadi

Seniman, seorang pembuat seni. Sejak bertemu denganmu pada hari itu, kau mengajarkanku bahwa tak selamanya seorang seniman hanya menghasilkan sebuah lukisan yang terlukis diatas kanvas dengan berbagai macam warna oleh cat.  Dugaan yang kucurigakan selama ini benar, diantara semua pelukis handal dimuka bumi ini, Kau lah yang terbaik. 

Sangat teringat jelas diingatanku warna yang kau pilih sejak pertemuan itu, warna kuning. Melihat tatap matamu, sepercik cat berwarna kuning jatuh bertaburan. 

Kuning, lambang kebahagiaan. Sungguh, aku tak pandai menyangkal bahwa kau begitu pandai melukis warna itu. Keceriaan, tawa, serta keindahan terhias jelas diingatanku. 

Lalu, warna kedua. Warna yang kau pilih adalah merah. Simbol cinta dan rasa ingin memiliki. Merah. Warna inilah yang begitu mengkontaminasi kanvas lukisan yang kau buat. Sejak melihat senyummu pada pertemuan pertama itu, kau meengenalkanku pada rasa ingin memiliki yang tumbuh kesat dihatiku. Mengeksploitasi segala sisinya oleh rasa cinta yang kau lukiskan.

Dan warna yang ketiga yang kau pilih adalah warna yang begitu kubenci saat kau memilihnya, Biru. Simbol kesedihan. Kau memilihnya demi menyempurnakan lukisan yang kau buat. Kau menyempurnakan luka yang membekas biru sementara kau semakin berjalan menjauh. Meninggalkan warna biru itu tumpah memenuhi permukaan lukisanmu. 

Pergi. Kepergianmu menyisakan biru yang menjajah segala warna yang lain. Warna merah dan kuning yang dulu kau lukis begitu indah, kau hancurkan dengan warna biru yang kau tinggalkan membekas luka begitu saja.

Kanvas dan lukisanmu kau tinggalkan dalam keadaan hancur berantakan. Kau permainkan perasaan ku dengan kuas dan cat berwarna-warni yang kau miliki. Sifatmu bagaikan pelukisnya, sedangkan hatiku bagaikan kanvas nya.

Kanvas yang sebelumnya putih tak mengerti warna kau warnai dengan berbagai macam warna. Kau mengenalkannya pada warna merah dan kuning yang membuat kanvas itu terlihat lebih hidup dan berarti, namun kau pula yang mengenalkannya dengan warna biru yang membuatnya kosong dan tak bermakna. 

Kau, memimpikanku dengan artinya sebuah cinta dan rasa kebahagiaan. Namun kau pula yang membangunkanku dengan luka yang tak tertahankan.

Karya senimu begitu mengagumkan, tak pernah kutemukan karya yang sama seperti yang kau hasilkan. Karya seni yang disebut, Patah Hati.
-Blue.


Kamis, 24 Desember 2015

04.30 p.m, Senja Hari.

Begitu indah, kicauan burung warna-warni mengisi ruang kosong pepohonan, Langit kuning kebiruan bercahaya menghiasi langit, berbagai macam wewangian bunga mengharumkan udara. 
Itulah senja. Pemandangan yang memanjakan mata, semerbak bau wangi menyejukkan udara. 

Tahukah kamu apakah senja itu?
Ia datang memberikan pemandangan indah layaknya matahari terbenam diseblah barat. Namun setelah keindahan itu, ia pergi dan meninggalkan kegelapan yang menyesakkan. 

Bukankah senja adalah sebuah perumpamaan yang paling tepat untuk mu?

Datang dan melukis tawa dan membakar cinta. Namun setelah itu, kau pergi dan memandamkan cinta dengan air mata.


Dua tiga daun bermekaran, kini cinta telah pergi bertebaran.  -Jarjit?

Selasa, 22 Desember 2015

Pernyataan maaf

Maaf,

Maaf karna telah mempersilahkan cinta mengetuk dan mengizinkannya hadir.
Oleh karna itu, persilahkanlah kata untuk mengungkap kepedihannya.

Maaf karna terlalu bermimpi menganggap cinta berlabuh juga pada pelabuhanmu.
Maka dari itu, bangunkan lah agar tak semakin terhanyut dalam mimpi itu.

Maaf karna telah berharap untuk kau tetap tinggal dan kembali membangun kerajaan dihati.
Karna itu, hancurkan lah sebelum semuanya telah terbangun begitu tinggi.

Maaf karna telah mendamba.
Namun nyatanya kau mendusta.

Jika kata maaf tak sanggup menjadi kendaraan untuk kau kembali, izinkanlah kata selamat tinggal untuk menjadi pengantarku untuk pergi.

Jika rasa cinta tak bisa menjadi penghalangmu untuk mendua, maka buatlah penyembuh yang baik agar menjadi penawar luka.

Maaf,

Maaf karna telah merindukan senyuman itu. Merindukan getaran yang ia dampakkan.

Maaf karna telah terlanjur menjadikan sepasang matamu sebagai kebutuhan. Karna segalanya nampak tak tak terlihat tanpanya

Maaf karna telah begitu memuja suara mu. Karna kicauan merdu burung pun terkalahkan oleh merdunya suaramu.

Maaf karna telah menganggap kehadiranmu bagaikan cahaya yang bahkan terik sang matahari tak menandingini ragamu.

Maaf telah menjadi alasanmu untuk pergi. Seorang gadis bodoh yang tak hentinya meresahkanmu dengan segala tingkah lakunya.

Tingkah laku yang kau anggap mengganggu. Namun yang ia lakukan adalah menjadikanmu pusat perputaran dunianya.

Gadis bodoh yang hanya ingin mengetahui keadaanmu, yang hanya merasa peduli terhadapmu, yang hanya ingin menatap senyummu, setiap harinya.

Namun, yang kau lakukan adalah mencampakkannya, mengacuhkannya. Lalu bagaimana dengannya? Ia baik-baik saja. Hingga kau pergi meninggalkannya. 

Gadis yang hidupnya penuh warna telah berubah menjadi kelabu. Gadis yang wajahnya selalu terhiaskan senyuman, kini membekaskan topeng demi menyelimuti kesedihannya.

Gadis bodoh yang kau campakkan itu, telah kehilangan arah untuk mencari jejak keberadaanmu. Gadis bodoh yang terbutakan oleh lima huruf, satu kata, dan yang tak ia mengerti maknanya, cinta.

Ia mencari, mencari, dan mencari. Kemana? Kemana sang pembangun istana itu? Mengapa ia menghacurkan keindahannya hingga menjadi kepingan yang menjadi luka? 

Tak hentinya ia bertanya, apakah salahnya, hingga ia harus tersakiti dengan serpihan istana yang bahkan dibuat oleh orang yang bahkan tak pernah menjawab kepeduliannya?

Mengapa begitu sulit untuk mencarinya?
Walau tanpa ia sadari sang pembangun itu tak hentinya berlalu lalang dihadapannya.

Sang pembangun yang seakan berpura-pura tak mengerti yang gadis bodoh itu cari. 

Hingga sekian lama gadis itu mencari, ia pun mendapatkannya. Mendapatkan tempat sampahnya.

Untuk menampung serpihan yang menyakitinya selama ini. Ya,ia tahu serpihan itu akan menjadi beling pada tempat itu. Namun yang ia lakukan hanyalah tetap membuangnya. 

Satu,persatu. Mereka menemui tempat baru. Namun... Tempat itu tak asing bagi serpihan itu. Rasanya seperti telah lama mengenal tempat itu.

Seketika ia kembali mengingat, sejak ia dibangun ditempat nya dulu, ia diciptakan oleh seorang pria tampan, memiliki mata tajam namun begitu menghanyutkan ketika menatapnya, memiliki suara berat namun menenangkan jika didengarnya.

Dan ya, ia begitu lambat menyadari. Bahwa ia kembali pada tuannya. Pencipta sekaligus penghancurnya.


Ia bagaikan sebuah batu bata, ia dapat membangun sebuah bangunan yang tinggi menjulang. Namun ketika ia telah hancur berantakan, dapat menjadi luka yang menyakitkan.

-anonimous?