Kamis, 24 Desember 2015

04.30 p.m, Senja Hari.

Begitu indah, kicauan burung warna-warni mengisi ruang kosong pepohonan, Langit kuning kebiruan bercahaya menghiasi langit, berbagai macam wewangian bunga mengharumkan udara. 
Itulah senja. Pemandangan yang memanjakan mata, semerbak bau wangi menyejukkan udara. 

Tahukah kamu apakah senja itu?
Ia datang memberikan pemandangan indah layaknya matahari terbenam diseblah barat. Namun setelah keindahan itu, ia pergi dan meninggalkan kegelapan yang menyesakkan. 

Bukankah senja adalah sebuah perumpamaan yang paling tepat untuk mu?

Datang dan melukis tawa dan membakar cinta. Namun setelah itu, kau pergi dan memandamkan cinta dengan air mata.


Dua tiga daun bermekaran, kini cinta telah pergi bertebaran.  -Jarjit?

Selasa, 22 Desember 2015

Pernyataan maaf

Maaf,

Maaf karna telah mempersilahkan cinta mengetuk dan mengizinkannya hadir.
Oleh karna itu, persilahkanlah kata untuk mengungkap kepedihannya.

Maaf karna terlalu bermimpi menganggap cinta berlabuh juga pada pelabuhanmu.
Maka dari itu, bangunkan lah agar tak semakin terhanyut dalam mimpi itu.

Maaf karna telah berharap untuk kau tetap tinggal dan kembali membangun kerajaan dihati.
Karna itu, hancurkan lah sebelum semuanya telah terbangun begitu tinggi.

Maaf karna telah mendamba.
Namun nyatanya kau mendusta.

Jika kata maaf tak sanggup menjadi kendaraan untuk kau kembali, izinkanlah kata selamat tinggal untuk menjadi pengantarku untuk pergi.

Jika rasa cinta tak bisa menjadi penghalangmu untuk mendua, maka buatlah penyembuh yang baik agar menjadi penawar luka.

Maaf,

Maaf karna telah merindukan senyuman itu. Merindukan getaran yang ia dampakkan.

Maaf karna telah terlanjur menjadikan sepasang matamu sebagai kebutuhan. Karna segalanya nampak tak tak terlihat tanpanya

Maaf karna telah begitu memuja suara mu. Karna kicauan merdu burung pun terkalahkan oleh merdunya suaramu.

Maaf karna telah menganggap kehadiranmu bagaikan cahaya yang bahkan terik sang matahari tak menandingini ragamu.

Maaf telah menjadi alasanmu untuk pergi. Seorang gadis bodoh yang tak hentinya meresahkanmu dengan segala tingkah lakunya.

Tingkah laku yang kau anggap mengganggu. Namun yang ia lakukan adalah menjadikanmu pusat perputaran dunianya.

Gadis bodoh yang hanya ingin mengetahui keadaanmu, yang hanya merasa peduli terhadapmu, yang hanya ingin menatap senyummu, setiap harinya.

Namun, yang kau lakukan adalah mencampakkannya, mengacuhkannya. Lalu bagaimana dengannya? Ia baik-baik saja. Hingga kau pergi meninggalkannya. 

Gadis yang hidupnya penuh warna telah berubah menjadi kelabu. Gadis yang wajahnya selalu terhiaskan senyuman, kini membekaskan topeng demi menyelimuti kesedihannya.

Gadis bodoh yang kau campakkan itu, telah kehilangan arah untuk mencari jejak keberadaanmu. Gadis bodoh yang terbutakan oleh lima huruf, satu kata, dan yang tak ia mengerti maknanya, cinta.

Ia mencari, mencari, dan mencari. Kemana? Kemana sang pembangun istana itu? Mengapa ia menghacurkan keindahannya hingga menjadi kepingan yang menjadi luka? 

Tak hentinya ia bertanya, apakah salahnya, hingga ia harus tersakiti dengan serpihan istana yang bahkan dibuat oleh orang yang bahkan tak pernah menjawab kepeduliannya?

Mengapa begitu sulit untuk mencarinya?
Walau tanpa ia sadari sang pembangun itu tak hentinya berlalu lalang dihadapannya.

Sang pembangun yang seakan berpura-pura tak mengerti yang gadis bodoh itu cari. 

Hingga sekian lama gadis itu mencari, ia pun mendapatkannya. Mendapatkan tempat sampahnya.

Untuk menampung serpihan yang menyakitinya selama ini. Ya,ia tahu serpihan itu akan menjadi beling pada tempat itu. Namun yang ia lakukan hanyalah tetap membuangnya. 

Satu,persatu. Mereka menemui tempat baru. Namun... Tempat itu tak asing bagi serpihan itu. Rasanya seperti telah lama mengenal tempat itu.

Seketika ia kembali mengingat, sejak ia dibangun ditempat nya dulu, ia diciptakan oleh seorang pria tampan, memiliki mata tajam namun begitu menghanyutkan ketika menatapnya, memiliki suara berat namun menenangkan jika didengarnya.

Dan ya, ia begitu lambat menyadari. Bahwa ia kembali pada tuannya. Pencipta sekaligus penghancurnya.


Ia bagaikan sebuah batu bata, ia dapat membangun sebuah bangunan yang tinggi menjulang. Namun ketika ia telah hancur berantakan, dapat menjadi luka yang menyakitkan.

-anonimous?

Sabtu, 21 November 2015

DIY Bahagia

OUTLINE :
I. AGAR BERBAHAGIA
   A. Mudah Memaafkan
       - Tidak ada kebencian
       - Hati bersih
   B. Gampang Mengikhlaskan
        - Jiwa Tenang
        - Hati tentram
   C. Rajin Bersyukur
        - Selalu berkecukupan
        - Tak ada iri hati

.
.

Sabtu, 14 November 2015

Mengapa aku menulis?

Untuk apa aku menulis?

Apakah?

Apakah hanya menjadi tempat penyaluran bakat yang tak tersalurkan?
Apakah hanya menjadi tempat mengungkapkan kata yang tak pernah terucapkan?
Apakah hanya menjadi penghibur rasa yang tak mungkin terbalaskan?

Mungkinkah?

Mungkinkah aku menulis demi mempersilahkan segala curahan yang ingin tercurahkan keluar melalui segala rangkaian kata?
Mungkinkah aku menulis semata-mata ingin dipandang pandai merangkai kata oleh orang lain?
Mungkinkah, aku menulis untuk melepaskan kepedihan, sakit hati, serta tangis pada kehidupan?
Mungkinkah, aku menulis demi membuat sebuah kisah fiksi yang begitu kuinginkan terjadi dikehidupanku?

Walaupun kutahu hal itu sangat tidak mungkin terjadi pada kehidupan kelam yang kulalui.

Akan sangat banyak pendeskripsian yang dapat mendeskripsikan dalam hal apa aku ingin menulis.

Apakah aku menulis demi menyampaikan perasaan?.

ya, benar. Karna kutahu tak semua perasaan harus tersampaikan melalui ucapan.
Apakah aku menulis demi menghilangkan kepedihan dalam hidup? 

Iya, Aku menulis demi menghilangkan penat, serta segala hal yang membuatku hampir jatuh. 

Menulis memberiku kekuatan. Seakan disetiap rangkaian kata yang kutuliskan mampu mengalahkan ketidak mampuanku menghadapi segalanya.

Menulis memberiku kebahagiaan. Seakan setiap detik waktu yang kuhabiskan bagaikan terhabiskan oleh pelangi yang bercahaya, bunga-bunga yang bermekaran serta burung warna-warni yang beterbangan.

Menulis memberiku kedamaian. Seakan didalamnya terdapat puluhan hektar padang rumput yang baru saja basah akibat terguyur air hujan.

Menulis memberiku waktu. Waktu untuk berpikir lebih jernih demi menata segala hal agar menjadi lebih sempurna.

Menulis membuatku berpikir. Bagaimana bisa, sebuah rangkaian kata yang kutuliskan dapat membuatku merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian dalam waktu bersamaan?

Bagaimana bisa? Akibat suatu rangkaian kata, dapat membuat sehari dalam hidupku begitu berharga.

Bagaimana bisa? Hanya karna rangkaian kata, aku dapat merubah persepsi dan cara berfikir orang lain?

Lalu bagaimana bisa? Hanya karna sebuah rangkaian kata, aku dapat bermanfaat bagi kehidupan orang lain?

Aku mengingat kutipan dari Imam Al-Ghazali yang mengatakan "Apabila kamu bukan anak raja dan anak seorang ulama besar. Maka jadilah penulis."

Aku jadi mengerti. Menjadi seorang penulis sangat lah penting. Bahkan seorang anak raja serta anak ulama besar pun dapat terkalahkan oleh seorang penulis yang bermanfaat.

Kalau beberapa orang menganggap, penulis hanya duduk didepan kertas menunggu ide mengalir lalu semuanya akan dituliskan begitu saja.

Bukan, menulis tak semudah itu. Menulis tak semudah duduk dengan secangkir kopi menunggu ide lalu mengetiknya dilaptop. Menulis memerlukan tekad serta ilmu yang tinggi. 

Bayangkan saja, jika seorang penulis tak memiliki tekad, tulisan yang ia tuliskan tak akan selesai hingga akhir hayat.

Lalu apa yang terjadi jika seorang penulis tak memiliki ilmu? 



Kamis, 12 November 2015

Sepucuk surat terakhir

p.s : saya tidak pernah berniat untuk mengutip suatu cerita/suatu kejadian nyata.
 understood?!

Dear Nya,

Surat ini kudedikasikan padanya yang telah pergi dari kehidupanku. Lebih tepatnya dari.... hatiku.

Untuk nya, yang selalu melukis senyuman indah diwajahku meski tanpa sepengetahuannya.

Untuk nya, yang datang seketika membuatku jatuh padanya.

Serta untuknya pula, yang pergi seketika lalu dengan sangat mudah menghancurkan segalanya.


Dia. Begitu perih mata ini mengetahui ia hendak pergi menjauh. Sangat hancur hati ini menatap kepergian tanpa sepatah kata pun yang tersisa. Amat membunuh jiwa ini mendengar ia telah berpihak pada yang lain. Engkau, yang telah menghidupkan hati, jiwa, raga, cinta dan kasih sayang ini, Namun Engkau pula tak cukup sedetik telah menghapus segala keindahannya.

Engkau, Apakah engkau tahu apakah yang tersisa atas penduaanmu itu? Jiwa yang rapuh, Hati yang hancur, serta harapan yang kosong. Engkau, apakah engkau tahu? kepergianmu tak terlalu masalah bagiku, bahkan engkau pergi sejauh apapun tak pernah menggoyahkan dinding yang kubangun. Namun, apakah engkau menyadari, Seyuman tulus itu tak lagi terhias disana semenjak kau pergi demi memperjuangkan yang lain. Segala cengiran, tawa, serta kebahagiaan yang kau lukis, telah pudar menjadi sebuah karya seni yang menakjubkan, yaitu kesakitan.

Aku, yang dulu pernah percaya namun aku dibohongi.
Aku, yang dulu pernah cinta namun aku terhianati.
Aku, yang dulu pernah bertahan namun tak kau perdulikan,
Aku, yang dulu pernah peduli namun dengan begitu sadis kau acuhkan.
Aku, yang nyatanya hadir disetiap pagimu, namun kasat mata dipandanganmu.
Aku, yang dulu berjuang mati-matian, dengan sangat keji kau lepaskan begitu saja.

Hanya karna apa?!

Karna, DIA!

Hanya karna dia, yang bahkan tak bisa melukis tawa dibibirmu.
Hanya karna dia, yang bahkan tak cukup lama, hadir dihidupmu.
Hanya karna dia, yang bahkan tak pernah MENGUNJUNGI MU TIAP PAGI.
Hanya karna dia, yang bahkan tak pernah rela meluangkan waktunya walau hanya demi menatap senyuman indahmu tiap pagi.
Hanya karna dia, yang bahkan tak jelas rasa cintanya.

Oleh karna itu, Aku, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya padamu.
Padamu, yang rela melepaskan sekantong berlian asli, demi menggantikannya dengan sebiji jagung yang telah basi.
Apakah kau tahu? Selama ini, Apakah aku pernal menyesali suatu hal?
Tidak, bahkan aku mensyukuri rasa sakit ini. 
Karna, Tuhan telah mengajariku bahwa AMAT SANGAT TIDAK PANTAS, SEKANTONG BERLIAN MENANGISI AKAN POSISINYA TERGANTIKAN HANYA KARNA SEBUAH BIJI JAGUNG. KARNA IA MENGERTI, YANG DAPAT MEMILIKINYA HANYALAH ORANG-ORANG KALANGAN ATAS YANG BISA MEMBEDAKAN YANG MANA PANTAS IA PERJUANGKAN SERTA YANG MANA PANTAS IA BUANG DITONG SAMPAH.

Lalu terhadap engkau, Aku sangat kasihan terhadapmu. Kau telah kehilangan seseorang yang mencintaimu tanpa batas demi orang yang mencintaimu dengan terbatas. Lalu Aku? Aku hany kehilangan seseorang yang tak pernah menghargai perjuanganku, walau kutahu, ada banyak yang memperjuangkanku diluar sana. 



Ketika sepotong hati telah menemukan
sepotong yang lainnya, saat itulah
dimana hati itu menemukan tempatnya
kembali.
- Suci Sultan

Sabtu, 31 Oktober 2015

Marry Your Daughter - Brian McKnight

Created By : Suci Sultan diwattpad as fictionalcrush
Tema : Songfic
Alur : Sedikit gaje
P.S : Jangan terlalu baper ini cuma dunia hayalan yang saya tuangkan dalam sebuah rangkaian kata demi menghibur kesepian hati.

--------

November, 2022.
Makassar, Indonesia.

Kutatap ganggang pintu bercat putih dihadapanku sambil beberapa kali mengusap kotak merah beludru yang kugenggam erat ditangan kananku. Resah, Gundah, Bahagia serta segala rasa bercampur aduk dalam benakku. Mataku menatap langit memohon kecerahannya. Menatap burung-burung warna warni beterbangan meminta kicauan manisnya. Meminta angin berderu membisikkan alunan indahnya. Pada hari spesial ku ini. Ya, Ini adalah hari spesialku untuk Gadisku.

Kata orang lain dia tidak terlalu cantik, namun begitu mempesona dimataku. Kata temanku dia gadis yang aneh namun terlihat begitu indah olehku. Kata sahabatku ia adalah gadis yang konyol, bertingkah tidak jelas dan sangat kekanak-kanakan, namun tanpa kusangka hal itulah yang membuat Dia terlihat begitu sempurna  dihatiku. Lalu Aku? Seorang pria yang dapat dikatakan sempurna, yang tak hentinya bertanya bagaimana bisa, seorang gadis tidak cantik, aneh serta bertingkah konyol itu dapat menghanyutkanku dengan pesona ketidak sempurnaannya itu.

Dengan pelan kuketokkan pintu itu beberapa kali, ketokan pintu yang sangat pelan itu berbanding terbalik dengan jantungku yang tak hentinya mengetok mengikuti irama desiran darahku yang memompa begitu cepat. Beberapa detik berlalu, hingga seorang wanita paruh baya tiba dihadapanku bersama senyuman manis menghiasi wajahnya. Setelah menjelaskan tujuanku, Ia segera membawaku pada ruang keluarga yang terletak tepat beberapa meter dari pintu depan. Mataku seketika menangkap sebuah pasang mata coklat yang membuat duniaku berhenti sejenak. Ya tuhaan!! Mengapa gadis ini begitu memikatku?! Bahkan hanya karna sepasang mata itu dapat membuatku mengacuhkan seorang pria paruh baya yang menatapku tegas dibalik mata hitam mencekamnya.

"Papa, aku mau ke toilet babay!"
Ucap gadisku lalu meninggalkan kami berdua dengan suasana begitu dingin. Bodoh, ucapku dalam hati sambil menatap kepergiannya dengan senyum.
"Saya tau tujuan kamu kesini, silahkan duduk."
Ucapnya begitu tegas. Tak terbantahkan.
"Kamu punya apa, sampai berani melamar anak bungsu saya?"
Deg! Aku sudah tahu pertanyaan inilah yang akan ia katakan padaku. Namun bukan Aku kalau tidak mempersiapkannya dengan sesempurna mungkin. Ini hari spesialku, untuk gadis terspesial ku juga. Gadis yang tak sengaja membuatku jatuh cinta padanya, tepat saat pertemuan pertama kita. Saat yang membuatku berjanji akan menatapnya berjalan dengan gaun pengantinnya yang senada denganku. Saat pertama kali aku berkata "Aku tahu, dan akan memilikinya suatu saat nanti."

"Hm? Kamu punya apa?"
Ucapan itu seketika membuyarkan impianku. Membuatku sadar agar menjadikannya menjadi nyata.
"Om, sebenarnya saya tidak punya apa-apa. Saya memang ceo disalah satu perusahaan besar, saya punya banyak mobil mahal, saya juga punya banyak rumah mewah dimana-mana, saya juga dikelilingi dengan ribuan gadis yang rela bergelayut manja dilengan saya..."
Mata calon mertuaku menyempit mendengar penuturanku. Tentu saja ia tahu semua itu, karna dia juga salah satu rekan bisnis perusahaanku.
"Tapi semua tidak ada artinya tanpa putri anda. Maka izinkan lah saya agar  menjadikan dia jadi ratu di kehidupan saya. Izinkan dia bisa memenuhi semua ketidaksempurnaan segalanya tanpa kehadirannya yang membuat semuanya jadi sempurna. Izinkan dia menjadi cahaya dalam kehidupan saya saat saya tersesat di kegelapan. Izinkan dia menjadi penuntun jalan saya, saat saya salah jalan. Saya tidak berjanji untuk memberikan dia apa yang dia inginkan, namun saya rela mengorbankan apapun demi apapun yang dia butuhkan."

---


Semuanya berjalan begitu cepat, tak terasa gadis yang sejak 7 tahun yang lalu memporakporandakkan hidupku, kini telah berdiri dihadapanku dengan terbalut gaun putih melekat ditubuhnya. Janji serta khayalan yang ku khayalkan 7 tahun yang lalu, menjadi kenyataan 7 tahun setelahnya. Gadisku, yang tanpa sengaja membuatku jatuh padanya bahkan dalam hitungan tak mencapai 4 detik, yang tanpa kuizinkan masuk kedalam lubuk hatiku yang terdalam, yang tanpa memohon sudah membuat singgasana dalam pikiranku. Tak dapat kutahan lagi, setetes air mata meluncur bebas dari mataku bersama dengan ratusan rasa yang telah terbayarkan.



P.S : INI CERITA BUAT LOMBA IW DI WATTPAD. 

Sabtu, 05 September 2015

Siapkah kau tuk jatuh cinta, Lagi?

Kepergiannya benar-benar mengubah 180,99 persen derajat celsius kebiasaan sehari-hariku. Segala kebiasaanku mengenai dirinya telah lenyap hilang seketika dari keseharianku. Dulu, demi melihat wajahnya aku rela bangun tepat jam 5 subuh walaupun dengan menerima kenyataan tak pernah aku temukan senyuman dibaliknya.  Mungkin sangat mudah baginya meninggalkan segala kenangan indah disana, kenangan yang bahkan sampai kapanpun tak akan pernah hilang dalam benakku. Sekolah itu, menyimpan terlalu banyak cerita. Bahagia, sedih, canda dan tawa yang kualami, sekolah itulah yang menjadi saksi bisu. Setiap kulewati pintu gerbang bercat hijau muda itu, benakku seperti seketika mereka ulang kejadian indah itu tanpa lupa mereka kembali kejadian menyakitkannya.


Seiring berjalannya waktu, sekolah itupun yang membantuku untuk merasakan senyuman kembali, walaupun tanpa ada kehadirannya disana. Sekolah itu pula yang mengenalkanku dengan sosok lain yang mungkin saja mengganti penggantinya dalam kisah untuk perjalanan yang selanjutnya.

"Jangan pernah mencari kebahagiaan
ditempat yang sama ketika 
kau kehilangannya."
-Anonimous