Hi, namaku Emily.
Gadis 19 tahun yang hidup sendirian di London, jauh dari kampungku di Jakarta, Indonesia.
Tak ada yang istimewa bagiku hidup di Inggris, mungkin terkesan aneh, namun begitulah kenyataannya walau hal ini hanya bekerja padaku.
Kehidupanku hanyalah berputar begitu saja, memutari kebiasaan yang tak akan pernah lepas aku darinya.
Kebiasaanku :
1.Pada pagi hari senin hingga sabtu aku akan berkutat dengan buku-buku kuliahku di kampus. Begitulah kesibukan para mahasiswa yang mengambil jurusan Kedokteran.
2.Kemudian pada sore harinya, aku akan berada dikafe tempatku bekerja, tak ada yang menarik dari pekerjaanku, hanya menyapa hai pada pelanggan kemudian memberi pesanan yang dipesannya.
3.Saat minggu, di pagi hari aku akan disibukkan dengan sesi membersihkan dorm-ku. Tak sesibuk pada pagi hari, siangnya aku hanya akan berbelanja dipasar membeli bahan-bahan makanan untukku selama seminggu. Lalu pada sore harinya, diperjalanan pulangku aku akan me-laundry- pakaianku ditempat laundry dekat tempat tinggalku.
Kebiasaanku bagaikan waktu yang berputar dan memutari hal itu itu saja, tak pernah berubah, dan begitu begitu saja. Sampai kejadian mengerikan itu, menghantui kebiasaanku.
A few weeks before that "day"
Matahari bagaikan bunga yang bermekaran menyinari kota London yang penghuninya dipenuhi kesibukan walau waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Jessica Emily Johnson dengan pakaian rapi berjalan menyusuri jalan menuju kampus tempat Emily kuliah. Handphone yang menjadi titik fokus penglihatannya membuatnya tak sengaja menabrak seseorang berjalan kearah berlawanan dengannya.
"Sorry sir,"
Ucap Emily dengan senyum ketika menatap sosok laki-laki tinggi dihadapannya.
"No problem."
Jawab pria itu sambil membalas senyum Emily hangat.
Senyum yang sangat manis, itulah first impression dari Emily pada Nathan yang baru saja memperkenalkan diri dihadapannya itu. Dengan perpaduan baju kemeja kotak-kotak, jeans biru dan sepatu sneakers hitam putih membuat penampilannya semakin memikat Emily. Setelah berbicara ringan dan saling bertukar nomor telepon, Emily dan Nathan-pun kembali kepada tujuan masing-masing. Tanpa Emily sadari, disitulah awal mula kesalahan dari pelanggaran kebiasaan yang tak pernah ia langgar, terjadi.
James, sahabat sekaligus teman yang menyukai Emily, mendengar persaksian Emily tentang Nathan -yang dia anggap begitu sempurna-, penasaran untuk bertemu Nathan dan kemudian memaksa Emily untuk mengajaknya makan siang minggu depan bersama disalah satu cafe didekat kampus mereka.
Emily sangat berterima kasih pada James tentang paksaannya untuk mengajak Nathan untuk makan siang, karna dengan hal itu, ia bisa mengetahui bahwa Nathan adalah pria baik dan bersahabat, dimana kampus Nathan, dan masih banyak hal lain tentang Nathan seperti; Nathan juga sering datang dikafe tempat ia bekerja, dan selalu melaundry pakaiannya ditempat yang Emily selalu melaundry pakaiannya juga, Berbeda dengan Emily, James menganggap Nathan adalah pria aneh dengan segala sikapnya, Emily menganggap perkataan James sebagai angin lewat saja walau sebersit rasa percaya karna mengingat James adalah mahasiswa dari Psikologi.
Hari berjalan begitu cepat, Kedekatan Emily dan Nathan membuat James marah terhadap Emily yang tak mendengar perkataannya. Emily yang mendengar kemarahan James pun hanya mengacuhkannya dan menganggap bahwa James cemburu pada Nathan. James berkata akan menjauhi Emily jika Emily masih berhubungan dengan Nathan yang di "okay"kan saja oleh Emily karna merasa telah cukup dengan kehadiran Nathan dalam hidupnya.
the day
Seperti kebiasaannya, pada hari minggu Emily hanya akan disibukkan dengan kesibukan membersihkan dorm pada pagi hari dan berbelanja disore hari. Setelah membersihkan dormnya, Emily kemudian bersiap untuk berbelanja keperluan seminggunya dipasar. Disela-sela perjalanannya kepasar, ia menyempatkan untuk menitipkan pakaian kotornya di laundry agar bawaannya tidak terlalu berat.
Tak ada hal aneh yang terjadi, hingga ia menyadari hari itu, Nathan tak pernah menelpon walau hanya untuk memberi kabar sekalipun. Saat mencoba menelpom, Emily hanya mendegar suara operator yang mengucapkan nomor Nathan sedang tidak aktif. Dipenuhi rasa kekhawatiran, Emily masih mencoba untuk berpikir positif dan mengerti mungkin Nathan lupa mencharge handphone nya saat keluar rumah.
Setelah membeli segala keperluannya, Emily-pun berjalan kembali kerumah dan akan mencoba menelpon Nathan saat sore hari ketika menunggu laundry nya selesai.
Saat tangannya membuka pintu kaca laundry, matanya membulat terkejut melihat kondisi laundry yang terlihat berbeda dari biasanya. Sepi. Satu pengunjungpun tak ada, padahal biasanya saat hari minggu laundry ini akan sesak dengan banyaknya orang yang mengantri. Tak hanya hal itu, hal mengganjal yang lainpun berdatangan. Mulai dari senyum penjaga laundry yang terlihat dipenuhi dengan ketakuatn hingga penjaga yang mengaku telah memasukkan pakaian Emily kedalam mesin cuci.
Dengan masih berpikir positif, Emily pun memencet tombol cuci pada mesin cuci setelah memberikan beberapa recehan pada mesin tersebut. Sambil menunggu mesin tersebut bekerja, Emily kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon Nathan. Dan leganya dia ketika nomor Nathan telah aktif. Namun, kelegaannya berlangsung sesaat saja.
Ia mendengar dering telpon menggema dalam ruangan sepi tersebut, matanya menyapu seisi ruangan berharap ada sosok yang diinginkannya itu mengingat bahwa pria-nya juga sering ketempat itu. Namun, matanya tak selaras dengan pendengarannya yang mendengarkan sumber bunyi itu tidak ada disekitarnya, tapi berada tepat dibawahnya. Hati Emily berdegup memegang handphonenya gemetaran sambil membungkuk berusaha mendengar dengan baik dimana sumber bunyi tersebut.
Jeritan. Hanya jeritan yang menggelegar seisi ruangan tersebut saat mata Emily menatap tepat didalam mesin cuci yang masih bekerja, sumber suara itu berasal dari sana. Bersamaan dengan jeritan histerisnya yang menemukan mesin cuci tersebut dipenuhi warna merah darah segar Nathan yang bercampur dengan putihnya busa sabun pakaian.
Dengan tangan bergetar, Emily menghentikan jalannya mesin cuci tersebut. Tangannya hanya dapat menutup mulutnya yang berada antara ingin muntah dan menjerit dalam waktu bersamaan saat mencium bau darah dan pengharum pakaian yang bertabrakan. Tanpa disadarinya, sosok James telah berdiri tepat dibelakangnya, mengucapkan kata yang begitu menyayat hatinya,membuatnya tak sanggup lagi menahan tangis dan amarahnya.
"Aku satu-satunya saksi yang bisa meringankanmu dihadapan polisi."
----
Inilah part pertama dan pertama kalinya saya membuat thriller story,
Mungkin dipart selanjutnya saya akan seperti "penyidik dan ahli forensik" gagal dalam waktu bersamaan.
hope u all enjoy it.
Sekali kau membuat seorang penulis mencintaimu, namamu akan abadi dalam setiap tetesan penanya. -pasukanhujan
Minggu, 09 Oktober 2016
Sabtu, 10 September 2016
Mimpi
"Bermimpilah setinggi langit, dan jika kau terjatuh, kau akan jatuh diantara bintang-bintang." - Soekarno Hatta.
Sepertinya, saat ini, dalam menghadapi mimpi ini, menghidupkan mimpi ini, demi me'nyata'kan mimpi ini, beberapa kata terakhir dari kutipan itu, ingin kuganti.
Karna jatuh diantara bintang-bintang adalah mimpi dari Soekarno itu sendiri.
Karna jatuh diantara puncak tertinggi burj khalifah adalah mimpi dari saya sendiri.
Mungkin ribuan orang datang dan pergi meninggalkan dan mengunjungi gedung itu
Tak ada dari mereka yang dapat mengira,
tak ada dari mereka yang bisa menduga,
ditempat jauh,
dikota kecil,
seorang gadis yang begitu biasa,
bermimpi dalam benaknya yang tak seberapa,
menggenggam mimpi dilengannya yang tak seberapa kekuatannya,
Dialah, yang tak sengaja jatuh pada gedung itu.
Gedung yang mereka anggap hanyalah pencakar langit yang biasa saja,
yang beberapa diantaranya menganggapnya indah,
namun hanya ingin berkunjung saja.
Dan beberapa pula diantaranya bermimpi,
namun mimpi yang tidak dia junjung tinggi.
Tetapi gadis itu,
tak tahu hal apa yang membuatnya berani bermimpi setinggi gedung itu,
yang ia tahu hanyalah,
mencapai puncaknya,
menggapai mimpinya,
menyatakannya,
mengubah segalanya,
Mengubah tawaan orang menjadi tepuk tangan yang meriah,
seberapa inginnya ia menjadikan cacian menjadi kekaguman yang tak berujung.
Maka izinkanlah.
gadis kecil biasa itu,
berjuang.
Biarkanlah ia merasakan merahnya darah yang ia korbankan demi sejuknya angin
ketika berdiri tepat diatas gedung itu.
Biarlah mereka menjadi saksi,
Betapa lelahnya menjadi seorang pemimpi.
Betapa pedihnya menghapus pilu,
Betapa indahnya nanti,
saat itu semua menjadi nyata,
saat semua ada didepan mata,
5 cm,
selalu tergantung sedekat itu,
tak pernah begitu dekat,
tapi tak pernah terasa jauh,
Cukup seperti itu,
Sepertinya, saat ini, dalam menghadapi mimpi ini, menghidupkan mimpi ini, demi me'nyata'kan mimpi ini, beberapa kata terakhir dari kutipan itu, ingin kuganti.
Karna jatuh diantara bintang-bintang adalah mimpi dari Soekarno itu sendiri.
Karna jatuh diantara puncak tertinggi burj khalifah adalah mimpi dari saya sendiri.
Mungkin ribuan orang datang dan pergi meninggalkan dan mengunjungi gedung itu
Tak ada dari mereka yang dapat mengira,
tak ada dari mereka yang bisa menduga,
ditempat jauh,
dikota kecil,
seorang gadis yang begitu biasa,
bermimpi dalam benaknya yang tak seberapa,
menggenggam mimpi dilengannya yang tak seberapa kekuatannya,
Dialah, yang tak sengaja jatuh pada gedung itu.
Gedung yang mereka anggap hanyalah pencakar langit yang biasa saja,
yang beberapa diantaranya menganggapnya indah,
namun hanya ingin berkunjung saja.
Dan beberapa pula diantaranya bermimpi,
namun mimpi yang tidak dia junjung tinggi.
Tetapi gadis itu,
tak tahu hal apa yang membuatnya berani bermimpi setinggi gedung itu,
yang ia tahu hanyalah,
mencapai puncaknya,
menggapai mimpinya,
menyatakannya,
mengubah segalanya,
Mengubah tawaan orang menjadi tepuk tangan yang meriah,
seberapa inginnya ia menjadikan cacian menjadi kekaguman yang tak berujung.
Maka izinkanlah.
gadis kecil biasa itu,
berjuang.
Biarkanlah ia merasakan merahnya darah yang ia korbankan demi sejuknya angin
ketika berdiri tepat diatas gedung itu.
Biarlah mereka menjadi saksi,
Betapa lelahnya menjadi seorang pemimpi.
Betapa pedihnya menghapus pilu,
Betapa indahnya nanti,
saat itu semua menjadi nyata,
saat semua ada didepan mata,
5 cm,
selalu tergantung sedekat itu,
tak pernah begitu dekat,
tapi tak pernah terasa jauh,
Cukup seperti itu,
"Bermimpilah setinggi langit,
dan jika kau jatuh,
kau akan jatuh tepat dipuncak
gedung Burj Khalifah."
- sang pasukan hujan.
- sang pasukan hujan.
Jumat, 12 Agustus 2016
Dibalik Topeng Si Monyet
Dibalik
topeng Si Monyet
7 agustus 2016
Siapa yang tak mengenalku? Aku berada hampir disetiap
tempat kalian mencari hiburan. Aku... terbiasa dengan ramai.
Dengan gontai kugandeng motor kayu tua yang tak dipahat
sempurnaku ini, terkadang kukibaskan tanganku demi menghapus serbuk kayu yang
terkadang melukai pergelangan tanganku. Hari ini, matahari tampak panas walau
kata belum mencapai waktu siang. Aneh juga, ditempat seramai ini tak ada yang
tertarik melihat pertunjukanku. Sesekali mataku mengerjap, mataku menatap
keatas menatap seekor kupu-kupu bercorak warna-warni terbang bebas menembus
langit sambil menari ditengah putihnya awan. Kemanapun mereka pergi, mataku
tetap saja mengikuti meski perih menanggung beratnya rantai yang melilit
leherku.
Mataku kemudian beralih lagi, menatap seekor ular besar
yang sedang bersantai ria bergelantungan diatas pergelangan tangan majikannya.
Tubuhnya gemuk menandakan makanannya tercukupi, bahkan melebihi dari
kebutuhannya sendiri. Berbeda hal dengan monyet tua kurus sepertiku, jangankan
tercukupi, bahkan laparpun aku selalu. Bahuku yang kendor menjadi umur seberapa
lama rantai besi berkarat ini telah menyesakkanku. Potongan kayu bergambarkan
wajah imut yang sangat disukai anak perempuan adalah membohong wajahku.
Aku tak berani bermimpi untuk bisa terbang menembus
langit bagaikan kupu-kupu bersayap indah itu, Berandai menjadi ular yang penuh
kemewahan itupun aku tak bisa. Jangankan memiliki sayap, menjauh 5 meterpun
rantai ini sudah mencekikku.
Tak ada yang mengira, dibalik topeng lucu yang selalu
kupakai ini, tersembunyi belenggu yang ingin dibebaskan. Bahkan sang kupu-kupu
tak bisa menyangka, dibalik semua keceriaan itu, ada sedih yang ingin
kusampaikan. Sang ular ganaspun, akan merasa iba jika menatap mata penuh penderitaan
itu.
Bisakah aku bertanya sekali saja pada langit, mengapa tak
bisa aku diciptakan sebagai kupu-kupu saja, yang dapat beterbangan kemanapun,
mengelilingi seluruh penjuru bumi tanpa rantai yang menahannya untuk terbang bebas.
Jika sang langit tak mengizinkan, tak apa-apa jika mereka mengutukku menjadi
batu, setidaknya tak ada lagi tangis yang harus kututupi dengan sebuah topeng
lusuh nan tua.
Selagi mencaci penciptaanku pada langit, tak sengaja
pandanganku teralih pada semut yang menggendong makanan yang berbobot berkali
lipat dari ukuran tubuhnya. Kuamati geraknya yang berjalan menuju lubang kecil
yang terdapat dalam tanah, lalu menyodorkan makanannya pada ratu dari bangsa
semutnya. Terbersit rasa kagumku pada Tuan semut itu, yang rela mengangkat makanan
berat dibawah teriknya sang mentari yang pada akhirnya ia serahkan pada semut
lain, tak ada cacian dalam mulutnya. Bahkan mengeluh sedikitpun tidak.
Rupanya langit telah memberi jawaban. Menjadi kupu-kupu
itu tak menjanjikanku langit, menjadi seekor ularpun tak menjanjikanku makanan.
Tapi, menjadi diriku sendiri dan bangga terhadapnya menjanjikanku sebuah mimpi.
Dan sebuah mimpi yang kulandaskan dengan mensyukuri akan memberikanku
segalanya.
Selasa, 26 Juli 2016
Sang Kucing Dan Kerinduaannya - Part 1
Namaku adalah, Moezza. Yah seperti itulah majikanku memanggilku, walaupun terkadang memanggilku dengan panggilan Caca. Terkadang tamu majikanku mengira aku adalah betina dengan badan kecil, dan kucing pendiam sepertiku. Berbeda dengan saudara kembarku, Momo. Terkadang mereka bahkan muak dengan tingkahnya yang begitu nakal hingga terkadang mendapat pukulan keras darinya.
Semejak aku hadir dirumah ini, keluargaku awalnya sangat menyayangi Momo dengan bulu tebal serta ekornya yang meliuk. Hingga terkadang ku iri karna perbuatannya, namun salah satu dari keluarga ini berbuat terbalik kepadaku. Ia begitu menyayangiku dan mengajakku bermain layaknya seorang sahabat baginya.
Tempatku dan Momo, hanyalah sebuah persegi panjang dari besi, yang hanya mencukupi tempat kotoran dan selapis koran tua yang menjadi bantalku. Hidupku berubah, dikeluargaku dulu dilantaipun aku tak mau karna tanahku berlapiskan karpet dengan bulu halus yang memanjakanku. Bahkan kawanku adalah kucing cantik yang berperingai manja dan lucu.
Berbeda dengan masa laluku, kini selain harus bertemu dengan kucing kampung nan liar, aku bahkan harus berbagi makanan dengannya. Terkadang, aku harus terpenjara dalam rumahku hingga berhari-hari lamanya, tanpa melihat keadaan luar. Hal itu terus saja berlangsung hingga keirianku akan kucing kampung yang bebas berkeliaran itu, semakin memuncak.
Aku berteriak dibalik pita suaraku yang hanya bisa mengucap kata meong, meggertakkan cakar pendekku disela-sela besi yang menghalangiku. Majikan itupun keluar, satu-satunya majikan yang memanjakanku. Dengan perlahan tangannya menggeser kunci pintu dan menariknya hingga membukakan jalan untukku agar bisa keluar.
Perlahan kuinjakkan kakiku, dan mencoba berjalan kesekelilingku. Terkadang bermain dengan kursi, berlari kesana-kesini, melihat hal baru, tak perna kusebahagia ini. Bebas. Tak terkurung.
Nanti ada next part, karna hp low yah dikasi 2 part.
Rabu, 20 Juli 2016
Wanita diatas tali
Akulah seorang gadis yang kau paksa berjalan diatas tali.
Tergantung, mungkin saja untuk selamanya.
Terkadang kau menebalkan talinya ketika hampir saja aku akan jatuh.
Namun ketika aku memulai kembali perjalananku, kau kembali menipiskan talinya.
Tak kutahu sampai kapan aku terus tergantung seperti ini, hingga mana aku harus berjalan diatas tali ini.
Hingga waktu itupun tiba, taliku seakan menjadi sebuah jalanan yang sangat luas.
Sekelilingku yang biasanya adalah lautan lepas, menjadi taman luas yang dihadiahi pelangi.
Saat dimana kau sendiri yang membantuku berjalan, kau berani menyusuri tali ini,
diatas tali ini,
kita berjalan bersama.
Perangkap yang kau buat sendiri, menjeratmu berpuluh-puluh kali lipat sakitnya.
Tapi kau menjeratku berpuluh-puluh kali lagi perihnya.
Haruskah kau ada?
Disaat ia datang menyapa?
Kau tak seharusnya berada disana,
Aku mencintaimu sebagai mengatur taliku, bukan sebagai pahlawan yang membantuku menuju ujung dari pertunjukanku.
Semakin kau menggenggam tanganku erat, semakin pudar pula tepian perjuanganku.
Haruskah kau datang?
Berada disanapun kau sudah cukup bisa mengatur detak jantungku.
Tak tahukah kamu tentang mendengar kabarmu saja sudah membuat pipiku memanas,
hingga hampir terjatuh dalam jurang yang kau buat?
Namun, jika inilah memang yang kau inginkan,
biarkan kita bersama terjatuh dalam jurang itu,
saling menggenggam,
semakin terhanyut,
bersama menunggu,
kapan tiba pertunjukan ini selesai,
dan menghentikannya.
Tak kutahu sampai kapan aku terus tergantung seperti ini, hingga mana aku harus berjalan diatas tali ini.
Hingga waktu itupun tiba, taliku seakan menjadi sebuah jalanan yang sangat luas.
Sekelilingku yang biasanya adalah lautan lepas, menjadi taman luas yang dihadiahi pelangi.
Saat dimana kau sendiri yang membantuku berjalan, kau berani menyusuri tali ini,
diatas tali ini,
kita berjalan bersama.
Perangkap yang kau buat sendiri, menjeratmu berpuluh-puluh kali lipat sakitnya.
Tapi kau menjeratku berpuluh-puluh kali lagi perihnya.
Haruskah kau ada?
Disaat ia datang menyapa?
Kau tak seharusnya berada disana,
Aku mencintaimu sebagai mengatur taliku, bukan sebagai pahlawan yang membantuku menuju ujung dari pertunjukanku.
Semakin kau menggenggam tanganku erat, semakin pudar pula tepian perjuanganku.
Haruskah kau datang?
Berada disanapun kau sudah cukup bisa mengatur detak jantungku.
Tak tahukah kamu tentang mendengar kabarmu saja sudah membuat pipiku memanas,
hingga hampir terjatuh dalam jurang yang kau buat?
Namun, jika inilah memang yang kau inginkan,
biarkan kita bersama terjatuh dalam jurang itu,
saling menggenggam,
semakin terhanyut,
bersama menunggu,
kapan tiba pertunjukan ini selesai,
dan menghentikannya.
Harapan tanpa kepastian bagaikan
berjalan diatas tali,
digantungkan. Memilih jatuh, terasa sakit.
Namun tetap berjalan, semakin digantungkan.
- Keinginan untuk bejumpa
ps : sepertinya semakin alay saja, dan blog ini semakin tidak jelas, but i love it and u.
Sabtu, 16 Juli 2016
Unendlichkeit
Kutemukan dirimu disepanjang ingatan, tempat itu, rumah kita dahulu memandang senja.
Mengajarinya arti cinta yang sebenarnya. Sayangnya, tak lama setelah langkahmu menjauh, senja menjadi saksi rubuhnya rumah itu.
Sebanyak apa kepingan bangunan itu tak mengalahkan kerapuhanku yang masih saja mengulang segala memori yang tersembunyi dibaliknya yang semakin berjatuhan.
Biarlah, hanya kita yang mengetahui keindahan itu.
Tertutupi oleh bangunan lain sebagai penipu jalanan.
Menipu rasa yang bersembunyi dibawahnya.
Kenangan, masih saja kau melukis kenangan dengan jarak sejauh ini, sempat terbersit pada keraguan akan mu namun kenangan itu menjadi penguatnya.
Tak berani lagi aku mengutuk jarak, karna rupanya itu tak berarti sama lagi padamu.
Mungkin rasanya begitu terencanakan ketika tuhan menghendaki mata ini tertuju padamu ditengah banyaknya mata yang mungkin kutatap. Rasanya telah tergariskan untukku melihatmu pada malam itu.
Dengan wajah yang sebahagia itu, tentu saja yakinku kau telah berubah. Namun jika tuhan mengizinkan untukku bertanya walau hanya dengan sebuah pertanyaan saja, ingin sekali aku bertanya padanya tentang mengapa hanya aku yang dapat melihatmu?
Mungkin ke-semu-anku dimatamu tak lagi mengusik pikiranku, tapi kenyataan tentang hanya akulah yang diizinkan jatuh walau dengan keadaan seperti ini selalu menghantuiku.
Jika memang seperti itu, bukannya aku berkehendak mengutuk takdir, tapi keadaan seperti ini membuatku sadar untuk kembali lebih terbuka.
Membuka mata,
Mendengarkan kembali bisikan hati,
Bayangmu semakin pudar dipandanganku, tak pernah kupaksa untuk menghilangkannya.
karna kutahu,
Jika kau pernah menjadi penulis dulunya, suatu saat kau pasti akan menjadi penghapusnya.
Rupanya penghapusku rusak, dan pensilku semakin teraut.
Saat ini, aku harus memilih diantara keduanya
Memperbaiki penghapusku yang rusak atau
mengambil pensilku sebelum menjadi semakin tajam dan patah.
- pasukan hujan
Rabu, 13 Juli 2016
Lintasan Waktu
Kesendirian, mengajarkan kita tentang keramaian. Namun keramaian tak mengajarkan tentang sepinya kesendirian itu.
***
Aku, akulah kesendirian itu. Bersahabat dengan sepi. Bercengkrama dengan angin.
Hampa dan hening adalah dua kata yang berbeda. Keduanya memliki makna yang tak sama.
***
Mungkinkah telah digariskan seperti itu?
Bolehkah aku mengubah takdir itu?
Menjadi seorang penyendiri dan penuh sepi sangat memuakkan.
Tak pernah merasa berteman, tak pernah merasa terhiraukan.
Cinta? mengertikah aku tentang kata itu?
bahkan mendekati kemungkinannya pun tak bisa.
Langganan:
Postingan (Atom)