Sabtu, 10 Juli 2021

Stasiun Emosi

Silih berganti
Berubah
Berpindah
Dari satu emosi ke emosi yang lain.
Diri ini adalah persinggahan emosi
Yang tak lama lagi menjadi sesak
Lalu setelahnya akan menjadi riang
Kadang sudah tidak mampu,
Stasiun ini padat.
Beberapa emosi mendominasiku
Kereta yang mengangkut emosi positif
Tidak kunjung menyinggahi
Tidak datang menyembuhi
Ada sesak yang menunggu tenang
Ada beban yang perlu diringankan

Kamis, 17 Juni 2021

Kamu mendengar semua orang, tapi siapa yang mendengarmu?

Suaraku, serak.

Dadaku, sesak.

Entah sudah berapa lama aku berteriak.

---

Selamat pagi, Kamis, 17 juni 2021.

Kebiasaanku setiap pagi, menyapa, mengabsen setiap benda yang kulihat pertama kali.

Halo, kursi.

Selamat pagi, meja riasku.

Bagaimana tidurmu, kucingku?

Kutatap layar ponselku, mengetik hingga kuhapal dialogku tiap pagi.

"Selamat pagi, apa kabarmu? Mau kemana saja hari ini? Jangan lupa sarapan ya"

Sent. Terkirim. 


Lalu setelahnya, tugasku hanya menunggu. Pada detik keberapa di hari kamis ini ponselku kembali berdering. 

Ketahuilah, memperhatikan orang adalah kemampuanku. Jika mutan seperti Charles Xavier memiliki kelebihan membaca pikiran orang, mutanku adalah mendengarkan semua orang.

Malahan bukan hanya orang, bahkan kucingku pun yang tidak berhenti mengeong setelah gagal mendapatkan betina milik tetanggaku, ku sediakan diriku, untuk senantiasa mendengarkan curhatannya.

Ya, meskipun dalam bahasa yang tidak bisa kupahami maknanya.

---

“Apa kabarmu?”

“Ku harap kau baik-baik saja,”

“Apa ada hal yang mengganggumu?”


Seperti mode otomatis, aku menanyakan keadaan orang lain. 

Entah sudah berapa lama aku mendengarkan orang lain. Indra pendengaranku semakin tajam, hingga dapat kuilustrasikan :


Telingaku semakin membesar, besar, hingga menutupi bibirku yang semakin menciut. Terlupakan. Hingga lupa makna dan fungsinya.


Emosi, tidak diketahui bentuknya. 

Bagaikan bermuka dua, 

Pagi hari akulah matahari yang cerah.

Namun saat pulang aku adalah pluto, jauh, tersesat, kecil, kesepian, tanpa teman, tidak punya apapun untuk diandalkan. 


Setiap kembali ke plutoku, meskipun berteriak keras, rasanya seperti bisu saja.

Tidak ada yang berubah, selain pikiranku saja yang semakin kacau. Emosi yang terpendam. Marahku yang tak kunjung padam.

Teriakan yang kulentangkan dalam hati sampai di bibir yang hanya mampu berucap :

“Aku, baik-baik saja.”

Benar sekali, aku lupa bibir ini fungsinya untuk apa.


Layaknya manusia biasa, aku memiliki emosi. Mempunyai perasaan yang sejatinya perlu dikeluarkan, dilepaskan. Pelepasan emosiku yang seharusnya melalui ucapan, selalu saja berakhir menjadi amarah yang tiada alasannya.


Rasanya, tidak ada yang mengerti bahasaku. Bahasa emosiku. “Aku tidak baik-baik saja”, “Aku butuh pertolongan” dalam kamusku tidak seperti itu bunyinya. 


Mungkin tidak jauh berbeda dengan kucingku. 

Kita berdua adalah alien yang tidak dipahami di planet mana kita tinggal.


Kamis, 04 Februari 2021

Jatuh Cinta yang tidak menetap

Pasti dari judulnya kau sudah marah deluan, bukan?
Merutuki, mana mungkin berani menulis Jatuh cinta yang tidak menetap alias dinamis?
Entah juga apa jawabku.
Bagaimana mungkin, aku berani menganggap ini tidak menetap?
Seperti garis X dan Y
Cinta ini begitu laju, meliuk, memuncak, terkadang stabil, terkadang berliku.
Maksudku menuliskannya, begitu sederhana.
Pada sikapmu, sayang.
Pada perhatianmu.
Pada marahmu.
Pada kasih sayangmu.
Tidak menetap berarti selalu sekali,
Jatuh cinta berkali-kali.
Kembali cinta lagi.
Padahal kau tahu, sederhana sekali.
Pada perhatianmu, yang meskipun kuanggap tak terbiasa.
Pada sikapmu, sayang.
Pada perhatianmu,
Pada marahmu,
Pada kasih sayangmu,
Pada senyummu,
Pada baik hatimu,
Pada niat baikmu,
Pada pengorbananmu,
Pada keikhlasan hatimu,
Pada perhatianmu
Kau tahu, 


Rabu, 27 Januari 2021

Tentang Penulis

Assalamualaikum,

Kutuliskan ini agar pembacaku dapat mengenal siapa sih yang menulis semua ini?

Halo semua, Selamat datang di Blog yang lusuh, berdebu ini!

Seperti judulnya, kali ini bukan hal melow galau yang ingin kutulis melainkan Diriku sendiri.

Saat ini sedang menjalani pendidikan di salah satu Universitas di Makassar, Departmen Epidemiologi. Menjadi soon epidemiologist alias tamat S1 inshaa Allah dengan gelar SKM, Aku berharap sekali bahwa ilmu epidemiologi atau lebih jelasnya ilmu yang mempelajari tentang  menyebaran dan penyebab penyakit ini dapat mengantarkanku menjadi lebih berarti, bermanfaat dan tentu saja menghasilkan penghasilan dari ilmu yang kutekuni sejak 2017 tersebut.

Sejak SMP, SMA hingga bangku kuliah bahkan sampai detik ini, aku adalah pecinta kesehatan mental. Mengingat bahwa SMP,SMA-ku tidak jauh dari perundungan entah itu lingkunganku, atau diriku sendiri, dilakukan oleh orang lain ataupun oleh diriku sendiri sudah menjadi topik pembahasan yang paling populer bagiku terutama pada malam hari saat mataku terjaga, sistem saraf otakku sedang melakukan sidang isbat yang pembahasannya tak jauh dari, uangku habis kemana, besok keramas apa tidak, dan terkadang ya... topik kesehatan mental ini.

Lalu sejak kapan mulai menulis? 

Sejak SMP, saat sedang kasmaran yang entah kenapa setiap kali aku menulis tentang apa yang kurasakan meskipun tidak membuatku berhenti cinta monyet setidaknya lebih meringankan rasa yang terbilang cukup baru bagiku. 


Mungkin itu dulu, 

Meskipun pembacaku nol, tapi menyenangkan bagiku untuk membaca tulisanku kembali. 

Seperti bernostalgia, reuni, dengan Suci yang dulu.


Disability Adjusted Life Years

Pagi-Siang-Sore-Malam-Kemudian tak terasa terus berulang hingga seminggu kedepan.

Siang dan Malam berganti,
Musim kemarau menjadi semi,
Gugur kemudian tumbuh kembali,
Dedaunan yang berwarna cerah, gugur lagi.

Lingkungan yang kau lihat semakin berkembang,
Berpindah,
Semakin baik,
Semakin produktif.
Umur yang kau anggap masih muda, waktunya mania saja...
Tak terasa, semakin menua.

Mereka sedang bertempur melawan dunia, pekerjaannya, organisasinya,
Dalam perlombaan adalah mereka yang mencuri garis start dari awal.
Sedangkan garismu masih belum nampak warnanya, jarak tempuhnya,
Percayalah, pertemuan ini berbeda,
Yang kau lawan bukanlah dunia,
Tapi dua,
hitam dan putih,
baik dan buruk,
naik dan turun,
kutub yang saling berlawanan,
entah yang mana yang akan menjadi pemenangnya,
kau hanyalah inang,
yang terkendali oleh emosi dalam diri.
Terbelenggu,
Terpasung,
Dalam pikiranmu sendiri.






Jumat, 02 Oktober 2020

Gangguan bipolar : seumur hidup berpacu diatas roda roller coaster

 

Gangguan Bipolar atau yang biasa disebut sebagai gangguan manik- depresi merupakan perubahan mood secara ekstrem yang ditandai dengan adanya peristiwa mania dan depresi yang terjadi pada suatu periode/waktu. Pada fase mania, penyintas gangguan bipolar akan merasakan euphoria yang berlebihan diikuti oleh perasaan yang mudah tersinggung, penurunan waktu tidur, dan kreatifitas yang meningkat sedangkan pada fase depresif adalah pertentangan dari peristiwa mania yang dimana terjadi penurunan emosi secara drastis yang menunjukkan kesedihan yang berlebihan dan suasana hati yang melewati batas kewajaran.

Berdasarkan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat 60 juta orang didunia menderita bipolar dengan jumlah kejadian setiap tahun dalam populasi diperkirakan antara 10-15 per 100.000 penduduk  yang angka tersebut di dominasi oleh wanita. yang mencapat 30 kejadian per 100.0000 penduduk. Menurut Menurut penelitian PDSKJI (Malang Post, 2016) jumlah penderita gangguan Bipolar (Bipolar Disorder) di Indonesia berkisar antara 0,3%-1,5% dari total penduduk. Meskipun gangguan bipolar memiliki angka kejadian penyakit yang rendah, namun perlu diperhatikan bahwa sebagian besar dari penyintasnya berasal dari remaja. Hingga saat ini, gangguan bipolar adalah salah satu jenis penyakit yang belum diketahui cara penyembuhannya oleh para ahli. 

Naik turun dalam Gangguan Bipolar adalah wahana yang seumur hidup akan terus berputar dalam hidup penyintas gangguan bipolar.Pengobatan dan terapi merupakan penentu laju pacuan roda yang akan membawa ataupun sedang berada dalam fase mania ataupun depresif. Diagnosa dan Intervensi yang cepat dan tepat dapat membantu penumpang kereta pacu gangguan bipolar menggunakan sabuk pengaman sebelum menemui titik puncak maupun titik terendah dalam trek roller coaster hidupnya.

 

Sabtu, 16 Maret 2019

Saat ini

semakin dewasa semakin kau menyadari,
bahwa semakin sedikit dan semakin sulit
kembali mencintai.
kupu-kupu dan pelangi yang dahulu rajin menghiasi  ruang-ruang dalam hati,
terkikis oleh waktu yang kian mendewasai.
terkadang ada rindu terhadap tidak tahu apa-apa.
saat rasa yang dahulu masih terlalu abu-abu untuk kusadari maknanya,
saat engkau yang dahulu masih selalu kuterka,
saat aku, masih tak mengenal rasa.
Cukup lama menunggu,
Ketika raga ini sudah lelah,
rasa tak lagi ingin betah,
mengejar dan selalu berakhir kecewa,
guru terbaikku adalah pada waktu.
belajar darinya bagaimana rumus takdir terhadap kita yang tak lagi bertemu sekaligus tak bisa menyatu.
menyadari rasa dibalik kepakan kupu-kupu, pelangi pada senja dan rasa apa yang disembunyikannya.
Kini telah kuhapal luar dalam isi dan maknanya.

Dimana tak perlu lagi abu-abu, karna kini semua terlihat berwarna.
Tak perlu lagi kupu-kupu penggelitik, karna telah layu mawarnya.
Atau mungkin,
tak perlu lagi hujan rintik, karna telah kusiapkan payungnya.
Saat dimana, hati tak perlu lagi menerka.
Saat kini, dihadapanku adalah aku yang  sulit kembali menyimpan rasa.


Minggu, 16 Desember 2018

Rasa, senja dan hujan yang tak kunjung reda

Tentang rasa yang tak sampai
tentang kagum yang tak kuakui
tentang marah yang kusembunyi
tentang cemburu yang tak kumengerti


adalah rahasia yang tak sengaja kusebar
pada sepoian angin di senja ini
mungkin juga pada diri sendiri yang selama ini kubohongi.

atau bisa saja pada rindu yang diam-diam kurutuki.
terhadap beberapa rasa. atau beberapa fakta,
Kepada hujan yang tak kunjung reda
disertai untaian lagu yang mengalun indah,  



entah sejak kapan rasa ini ada

Sabtu, 14 Juli 2018

Random

memang benar, bahwa usahaku.
bahwa perjuanganku,
bahwa besarnya keinginanku,
dalam melupakanmu,
hanyalah setitik embun pada pagi hari.
Tak bermakna,
Tak berarti.
Bahwa semua itu, hanyalah berada dalam jawaban waktu.
Windu apa yang kusebut lama?
Ketika waktu demi waktu terhabiskan karna perjuanganku melupakanmu.
Tahun demi tahun apa yang kau selalu ada?
Walau meski hanya dalam benak, tapi percaya tak percaya kau selalu ada disana.
Melupakan dan berpindah apa yang selalu kusebut sempurna?
Ketika bahkan seluruh semesta yang mematahkan kesempuranaan itu.
Ketika waktu,
Ketika detik,
Sampai kapan aku terus menjadi penghitung?
Menghitung pada detik yang mana benak ini tak lagi memikirkanmu.
Pada menit yang mana hati ini tak lagi terpenjara dalam menginginkanmu.
Perlawananku begitu sengit.
Melawan semesta yang selalu mengirimkan kicauan tentangmu tepat ditelingaku.
Melawan semesta yang apa-apa selalu ada tentangmu.
Melihat bukupun adalah tentangmu.
Gambar seni adalah dirimu.
Lalu sampai detik kapan aku bisa kembali membuka perasaan?
Aku tak pernah mengharap penggantimu.
Benar sekali bahwa tak ada yang sanggup menggantikanmu.
Tapi apakah salah jika aku berandai untuk melupakanmu?
Setidaknya sanggup bersama semesta yang tak lagi tentangmu.
Buku dan seni yang tak lagi mengingatkanku tentangmu?
Disaat raga dan mimpimu semakin jauh,
bawalah rasa ini bersamamu.
Rindu ini bersamamu.
Segala memori tentangmu.
Selagi perjalananmu meraih mimpi,
Selagi perjuanganku juga meraih mimpi,
Kuharap kita bisa saling mengerti,
Maksudku - aku bisa lebih mengerti,
Bahwa takkan bisa aku memiliki,

Padamu yang hanya sebatas mimpi.
setelah begitu lama cuti menulis,
finally im back!

Selasa, 01 Mei 2018

Satu tahun

Kembali lagi,
Mimpiku,
Kembali lagi.

Sewindu rasanya melalui hari-harinya.
Terlalu berat.
Bahkan semakin berat.
Setiap detik yang menghempaskan.
Menenggelamkan.

Aku, dan mimpi-mimpiku.
Rindu-rinduku.
Perlawananku.
Seakan terus menghantuiku.

Setahun sudah,
Kegagalan terus menggerogotiku.
Tatapan orang adalah celaan menurutku.
Ucapan mereka adalah hinaan kepadaku,
Setidaknya begitulah melalui sudut pandangku.

Setahun sudah,
Ayah,
Ibu,
Saudaraku,
Setahun sudah,
Aku berjuang.
Melawan diriku sendiri.
Melawan takdirku sendiri.
Membohongi hatiku sendiri.
Mimpi-mimpiku yang sempat tertunda,
Kembali menggangguku akhir-akhir ini.

Mimpiku,
Jermanku,
Bahkan setahun sudah.
Sahabat-sahabatku ingin membenarkan kesalahannya tahun lalu.
Kembali mengikuti tes,
Mencoba memberhasilkan kegagalannya dimasa lalu.

Lalu apakah aku?
Ketika mimpiku sedang bertengger menungguku dilangit,
Aku lupa caranya untuk terbang.
Aku,
Lupa bagaimana caranya berjuang.
Mimpi-mimpiku,
Yang sejak dahulu tak pernah kuanggap beban,
Bahkan selalu kuanggap peluang,
Kini yang melemahkanku selemah-lemahnya.
Kulupa pertarunganku,

Setahun sudah,
Kugenggam mimpiku,
Kutahan,
Kupendam,
Kering sudah,
Air mataku.

Tapi, tidakkah cukup setahun aku selemah ini?
Bukankah peluangku masih menungguku diluar sana?
Keluarkan aku dari jerujiku.
Bebaskan aku dari sangkarku.
Izinkan aku kembali terbang,
entah tak papa
Meski tahun ini tak lagi takdir jermanku menghampiriku,
Meski kegagalanku terulang kembali,
Meski keringatku kering dan tak ada sesuatu yang terjadi.
Keikhlasan selalu melekat bersamaku.

Setidaknya,
Perjuangan adalah kebiasaanku.
Sakit yang tak berdarah, sudah kebal aku dengan itu.
Kekalahan adalah pelajaran bagiku.
Kekalahanku, menguatkanku.

Entah hanya aku dan Allah yang tahu,
Seberapa besar keyakinanku terhadap :
"Apapun yang sudah ditakdirkan untukmu, selamanya meski seribu tahun, takkan melewatkanmu."

Entah apa mungkin tak ada keraguanku terhadap,
Sesuatu yang bukanlah mimpiku adalah yang akan membawaku pada sesuatu yang lebih baik.

Kali ini, 
Padamu para pemimpi diluar sana, 
Para petarung,
Para pejuang,
Terserah keadaanmu meski kau sudah lelah atau kau masih kuat untuk berjuang,
Percayalah sahabat.
Allah tak pernah, 
Sekalipun,
Sedetikpun,
Tak semenit,
Bahkan tak terhitung,
Meninggalkanmu.
Kawan,
Air matamu, adalah mutiara.
Menangislah! 
Berteriaklah!
Izinkan penjuru langit mendengarmu,
Berisaklah,
Yakinlah pada ketentuan yang telah ditetapkan padamu.
Mimpimu yang besar itu,
Mimpimu yang kau anggap indah itu,
Tak pernah,
Tak akan pernah mengalahkan besarnya cinta Allah padamu.
Menangislah dihadapan tuhanmu,
Kau lemah sedangkan Dia-lah yang Maha Kuat.
Kau tak memiliki apapun sedangkan kaulah hamba yang Maha Memiliki.
Lalu apa yang perlu kau takutkan?
Apa yang kau ragukan?

Menangislah dihadapan tuhanmu,
Dan jadilah petarung terkuat dihadapan hamba-hambanya.
Deraskan derai air matamu, dihadapan tuhanmu.
Dan jadilah yang terbaik dihadapan hamba-hambanya.

Kegagalan tidak menjadikan kau seseorang yang lemah,
Keberhasilan tidak membuatmu menyandang gelar kuat,
Keikhlasanmulah yang menentukan kau berada dimana.
-S

Kucintai kegagalanku, Kubangga dengan kekalahanku.
Aku belum sedewasa itu,
Sehingga Allah mengajarkanku ikhlas,
dengan menjadikanku gagal.
Allah menjadikanku pemenang,
dengan menjadikanku kalah.
-Petarung amatiran yang baru mengenal medan tempur.


Rabu, 28 Maret 2018

Mimpi

barusan kulihat ada post dari PPI jerman, ternyata ungkapan pemimpi yang bermimpi kuliah dijerman.
camkanlah,
mimpi besarmu tak mengalahkan besarnya tekadmu.
jauhnya jermanmu tak menghentikan perjuanganmu.
air matamu, keringatmu, sujudmu, niatmu,
akan terbalaskan oleh indahnya mimpi-mimpimu.
salam untukmu, saudara.
kepakkan sayapmu, terbang menuju mimpimu,
lanjutkan perjuanganku yang untuk saat ini kutunda dulu.
perjuangkan mimpimu,
selagi kuperjuangkan milikku.

sampai bertemu pada satu siang di tembok berlin, Berlin, Jerman.

Jumat, 19 Januari 2018

kegundahanku siang ini

lagi,
jermanku 
mimpiku
menjadi kegundahanku
memberatkanku
namun sekaligus menyadarkanku
duhai mimpiku,
tetaplah 
jangan berubah
karna engkau motivasiku
untuk terus berjuang 
mempertahankanmu
mewujudkanmu
salam rindu,
dari seorang pemimpi.

Kamis, 10 Agustus 2017

puisiku malam ini

baru kusadari, bahwa kita pernah sedekat nadi sebelumnya.
kita, dan tentang kita.
kemarin kita, yang saling menggengam.
berharap akan rasa.
memeluk tatap.
kumengerti sekarang, mengapa mereka berkata rindu itu sulit.
rindu itu berat seperti kata dilan.
kuharap kau sepertinya, mengerti bebanku akan rindu.
mengajakku berhenti merindu.
mengingatkankanku tentang masa lalu.
yang belum terlalu jauh untuk berlalu.
kau, dan aku, aku dan mereka, kau dan mereka,
terlalu berat untuk kugambar di aksara.
harapan yang selama ini menjadi tempat kita saling berdiri,
mungkin kita sedang bermain-main dengan takdir.
menunggu takdir kapan akan menunjukkan tombaknya pada kita berdua.
tentang sepasang rindu yang tak saling bertemu
tidak saling berucap
tapi saling mengenal
tidak saling menyentuh
tapi tetap menggenggam
tidak saling bertemu
akan tetapi saling memeluk 
satu
dan yang lain
kau,
entah itu aku
entah itu siapa
kita bagai pelangi, terlalu berwarna, sulit saling mengerti.
sepasang matamu memberi rasa, tapi tidak dengan ucap di bibirmu.
mungkin inilah sebuah lembaran kita, yang mungkin tak lagi saling menyatu
meski sebelumnya pun kita tak pernah seperti itu
tak pernah kusangka, kita pernah sedekat itu kemarin.
seerat itu kemarin.
sehangat itu kemarin.
begitu rindu aku dengan kemarin,

namun apalah aku, yang hanya pandai merindu keterlambatanku

Minggu, 30 Juli 2017

The Feelings


Maafkan ketidakpekaanku, yang tak mengerti rangkaian tanda tanyamu.

Aku, terlalu dungu untuk urusan cinta.
Terlalu dangkal tentang hal itu.
tentangmu, dan segala warna-warni dan juga keabu-abuanku.
aku, tak mengerti warna apa yang sedang kau gambarkan.
kata apa yang ingin kau ucapkan,
perasaan apa yang ingin kau utarakan.
meski kuulang berkali-kali, nyatanya aku masih belum memahamimu.

Pesanmu senja itu,
cukup singkat untuk membuat cabang dipikiranku.
sebuah rangkaian yang menawarkanku terlalu banyak rasa yang tak kumengerti arahnya.
sebuah kata yang hadir sebagai teka-teki besar yang tak kutemukan jawabannya.

Pahamkan aku tentangmu.
Ajarkan aku menjawab pertanyaanmu.
Beritahu aku caranya mengerti perasaanmu.
Sebagaimana kau telah membuatku mengetahui cinta,
tapi tak mengerti tentang halnya.
Pandaikan aku akan hal apapun, asal tidak kau paksakan aku pandai untuk melepaskan,
sesuatu yang tak pernah kumiliki sebelumnya.

untuk diriku,
maaf terlalu memaksa keadaan untuk kau tidak jatuh cinta sekali lagi.
ini semua untuk menghidari kau tidak terluka untuk yang kedua kali, lagi.


--

Jumat, 12 Mei 2017

complete

tentang dia yang dulu.
orang-orang berkata, lupakan masa lalumu.
tapi tidak denganmu.
mungkin kau sudah lampau.
mungkin kau sudah menjadi yang dulu.
menjadi sebuah kenangan tentang masa lalu.
tentangmu, yang dulu pernah menjadi yang selalu kusebut.
kurindu.
kucinta.
kudamba.
tentangmu, yang entah dimana kau berada.
waktu berjalan tidak sebegitu cepatnya.
karna kemungkinan besar, meski tak cepat,
kau sudah tergantikan.
oleh siapa?
lupakanlah.
aku tak ingin berbicara tentangnya saat ini.
kuspesialkan, hanya untukmu saja hari ini.
terkadang rindu itu datang.
terkadang wajahmu kembali berbayang.
terkadang kenangan itu bermunculan.
satu persatu,
bagaikan sebuah film 90an yang kembali ditayangkan pada era 2000an ini.
sebegitu indahnya kah perasaanku pada masa lalu hingga bahkan pikiran inipun masih terbayang olehmu?
ini sudah bertahun-tahun lamanya, tapi tak terasa selama itu untuk menunggumu.

tapi tolong, jangan menganggap perkataan tadi adalah sebuah harapan terhadapmu.
tapi maaf, kali ini hati ini sudah menemui pemiliknya yang baru.
maaf jika engkau merasa tersingkirkan,
bukannya engkau deluan yang melakukan?
tolong sekali lagi, itu bukan makna balas dendam,
tapi hanya mengingatkan jika tulisanku tak lagi untukmu dihari kedepannya.
entah untuk apalagi aku menulis,
tapi, kau perlu mengingat sesuatu,

aku tak membutuhkanmu untuk menulis cerita manis lagi kedepannya.
dan kisah ini kututup rapat.
terima kasih sudah mengajarkanku tentang cerita romantis dan manis beberapa tahun yang lalu.
meski menurut orang lain tak ada manisnya, tapi sejujurnya,
itu sangat manis bagiku.


Kamis, 04 Mei 2017

Her.


“aku tak mengerti sedikitpun makna dari hal ini”
ucap gadis itu menggelengkan kepala.
“mungkin maksudnya adalah seorang gadis yang tak peka sama sekali.”
Jawabnya berharap sang penanya mengerti.
           
Ia tak mengerti apapun.
Ia tak mengenal apapun.
Ia tak mengetahui apapun.
Tak peka terhadap apapun.
Ia bagaikan daging tanpa saraf kepekaan.
Beribu hingga jutaan kali aku berusaha menyadarkannya.
Entah terbuat dari apa telinganya, atau mungkin hatinya.

Jika kalian memaksaku untuk mengatakannya langsung, ya aku berani.
Tapi apakah gadis itu akan mengerti?
Bahkan sedikitpun ia takkan mengerti.
Lagipula, sebenarnya aku sudah mengungkapkannya,
Beberapa kali.
Meski bukan dengan ucapan manis dari bibirku.
Tapi sikapku,hatiku, jiwaku, perhatianku, rasaku, mataku, semuanya mengungkapkannya secara terang-terangan.
Gadis itu saja yang tak pernah mengerti atau ‘peka’ terhadap hal itu.

Terdengar menyebalkan, tapi takkan kulepaskan ia begitu saja.
Entahlah, lebih baik aku terjebak dengan ketidakpekaannya daripada harus menghabiskan waktu demi mencari yang seperti dirinya.
Tidak cantik sama sekali, gadisku.
Tidak seperti itu caranya membuatku membuatku tanpa batas kesabaran terhadapnya.
Hanya begitu saja. Hanya menjadi dirinya sendiri, yang membuatku mulai mengerti arti kesabaran itu.
Tapi tak tahu,
Sepertinya gadis itu ingin mengajarkanku tentang sesuatu hal lain lagi.
Yaitu jarak.
Dia, mengajarkanku sesuatu bagian lain dari dirinya.
Yaitu, jarak.
Mengenalkanku pada rasa sabar yang lain.
Yaitu waktu.

Tak peduli aku dengan semuanya.
Jika memang gadis itu ingin mengajarkanku banyak hal, aku terima semuanya.
Asalkan dia tak pernah mengenalkanku dengan perpisahan.
Dengan patah hati.
Dengan kekecewaan.
Dengan meninggalkan.
Aku sanggup menghadapi sikapnya yang lain,
Tapi jika kemanisan dari sikapnya terdapat bagian dari akhir yaitu perpisahan,
Kugenggam erat tangannya saat ini juga.
Agar hari esok, ia tak mengajarkanku hal itu.

aku, terinspirasi oleh mereka yang selalu mengharapkan kepekaan dalam diri seseorang.
lalu menyampingkan sikap lain dari diri orang tersebut.
yang mungkin lebih manis dari hal itu.

note :
memulai sesuatu hal yang baru lagi, huh?
dengan menjadi "point of view" orang yang selama ini di view.
hm.
xoxo,
hujan.



Minggu, 23 April 2017

Keyakinanku.

apakah memang pada akhirnya mimpi-mimpi para pemimpi harus dilepaskan begitu saja?
apakah memang harus seperti itu?
mengorbankan mimpi sang pemimpi, demi kebahagiaan orang-orang yang begitu dicintainya?
bahkan melewatkan kebahagiaan sang pemimpi sendiri?

kejam.
keras.
jahat.
itulah dunia yang sedang dihadapinya saat ini.
diambang batas antara ingin berlari,
atau entah ingin mati saja yang ia pikir lebih baik.
tak ada yang mengerti padanya.
tanpa terkecuali dirinya sendiri.

sakit.
begitu rasanya, ketika mimpi yang kau genggam sebegitu beratnya,
harus kau lepaskan begitu saja.
andai saja mereka mengenal arti sejati dari mimpi itu.
mereka akan menangis-sejadi-jadinya hanya untuk menyeret sang pemimpi pada gerbang Jerman tersebut,

andai saja.

tapi, mereka tak pernah mengerti.
mereka hanya tahu tentang ego masing-masing.
tak tahu, alasan apa yang mendasarkan mereka sangat berat melepaskan,
alasan apa yang membuat mereka menguntai belasan alasan demi menghentikan langkah pemimpi itu.

andai mereka tahu,
seberapa banyak air mata,
cucur keringat,
andai mereka bisa merasakan,
seberapa sakit darah meski tak berdarah tersebut,
dengan merangkakpun, mereka tetap menyeret pemimpi itu  untuk ke gerbang kesuksesannya.

Sayangnya,
mereka tak pernah mengerti.
entah, hanya untaian doa yang akan membuat mereka mengerti.
Yang dapat dilakukan hanyalah meminta.
pada Yang Maha Memiliki.
Maha Berkehendak.
Maha Menciptakan.
Pencipta Bumi dan Langit.
Meminta agar segera, ia menghentakkan  kakinya pada belahan bumiNya yang lain.

Saat ini,
Jakarta, 24 April 2017.
12.28.27 AM.
sekalipun takkan gentar niatku,
untuk menyatakan mimpiku.
takkan kulepaskan.
lihat saja bagaimana nanti akhirnya,
setidaknya saya takkan rela menyerah terhadapnya,
tapi hanya Allah swt yang akan menentukan.
dan saya yakin, Dia yang paling mengerti,
paling tahu,
paling mengenal.
apa yang terbaik bagi hambaNya
dan mengetahui betul,
seberapa besar perjuangan kerasku untuk mimpi ini.
Saya yakin,
Allah takkan menyia-nyiakan pengorbananku.
Entah jika mimpi itu akan menjadi nyata atau tidak,
saya percaya :

"Apapun, jika Allah telah men takdir kannya untukmu, bahkan ketika langit dan bumi pun mencoba menghalangimu, bahkan ketika mataharipun ingin menghentikanmu, bahkan ketika lautanpun tak mendukungmu, bahkan ketika ratusan hingga ratusan tahunpun. takdir itu tetap terjadi padamu."

saya yakin.
saya yakin.
saya yakin.


suci sultan, sang pemimpi yang sangat ingin merasakan indahnya
rasa "akhirnya, setelah banyak perjalanan yang kulalui,
mimpi ini pun jadi nyata."

sekian, 
assamualaikum.


Kamis, 16 Maret 2017

Lembaran Baru

jika mungkin sanggup diperumpamakan, mungkin aku adalah sebuah patung beberapa hari belakangan ini.
hanya saja patung yang tak diam setiap saat dan mampu berbicara.
Tapi sebagian besar mungkin kami hampir sama.
cuma mengetahui diam dan tak mengenal rasa.
namun entah mengapa, entah kapan,

patung itu mulai mengenal rasa.

pernah terbersit meski hanya sementara, ingin kembali padamu.
ya, engkau yang dulu.
karna alasan bahwa aku sudah terlalu terbiasa dengan rasa yang mulai hambar terhadapmu, mungkin?
tapi tak tahu, ataukah mungkin tuhan memang menggariskan seperti itu,
timbul rasa baru terhadap seseorang yang baru.

tak ada yang menyangka, sang penulis...
menemukan lembaran barunya.
buku barunya,
halaman,
isi,
bab,
sampul,
semuanya baru.
tak sedikitpun lagi menjadi chapter lanjutan dari buku lamanya.

betapa beruntung,
seseorang yang sanggup membuat sang penulis kembali jatuh hati.
kembali mencintai,

entah siapa lembaran baru itu,
hanya menjadi rahasia antara si penulis, tuhan, dan setiap untaian katanya yang tahu.
tapi satu hal yang ingin penulis itu ucapkan,

sekali kau membuat seorang penulis mencintaimu, namamu akan abadi disetiap tetesan penanya,
.

rahasia tuhan jika memang lembaran baru itu akan abadi.
tapi sang penulis hanya mampu berharap,
agar kisah barunya ini,
dapat menjadi kisah terbaik diantara semua kisah yang pernah ia tuliskan sebelumnya.

semoga saja, Allah menggariskannya seperti itu.

xoxo.

p.s : karna berhubung memang saya punya kisah baru, saya akan mengganti nama blog ini dari sucisultan.blogspot.com menjadi pasukanhujan.blogspot.com

happy reading!
xx

Sabtu, 11 Maret 2017

compliqué

Pernahkah kau merasa mekarnya bunga  ketika sedang jatuh cinta?
Pernahkah kau merasa indahnya rasa kupu-kupu yang beterbangan ketika merasakan cinta untuk kedua kali?
Lalu saat setelahnya,
Kau mulai merasa tak pantas terhadapnya
Dan merasa ia tak pantas pula terhadapmu
Dunia seakan menjadi tak masuk akal
Kupu-kupu terbang entah kemana
Bunga-bunga layu entah kenapa
Detik bagai hari yang begitu panjang
Disaat
Bahkan kau merasa begitu muak
Menyesal
Telah mengizinkannya
Cinta baru
Yang bahkan belum kau proklamasikan kejelasannya
Membuatmu berharap melupakannya
Karna ia lebih pantas bersama bunga lain yang sedang bermekaran padanya
Dengan kupu-kupu yang menanti kehadirannya.
Pernahkah?
Sesakit itukah?
Melepaskan sesuatu yang bahkan tak pernah kau genggam sebelumnya?
Mengucapkan selamat tinggal bahkan
Bahkan…
Sebelum kau mengucap selamat datang padanya.

Maka dari itu,
Saya memilih mundur. Meski saya
Baru selangkah maju.

-unknown

Sabtu, 11 Februari 2017

Proklamasi Kemerdekaan

11 februari
Dengan berani kulantangkan suaraku, mengucap sanggup melupakanmu.
Dengan tangguh kuacungkan tanganku, melambai menjauhimu.
Itulah bagian dari sesi proklamasiku.

Merdeka dari rindu tentangmu.
Merdeka dari pikiran tentangmu.
Merdeka dari rasa kepadamu.
Berdamai dengan rasa tentang masa lalu
Merdeka...
dari segala jajahanmu.

Lepas dari semua hal tentangmu.
Meninggalkanmu ditumpukan buku yang akan berdebu dan usang.

Kembali memberanikan diri membuka lembaran baru.
Kembali mencoba menulis kembali tentang hal baru.
Tak ada lagi tentangmu.
Tentangmu yang mulai hari ini menjadi yang 'pernah' tercatat dilembaran lamaku.
Tentangmu yang kuhapuskan dihari-hari kedepanku.
Tentangmu yang cukup kujadikan lampau.
Tentangmu yang akan kulupakan.

Tentangmu,
Yang mungkin akan menyesal setelah membaca proklamasiku ini.
Menyesal mungkin kau telah menyia-yiakan seseroang yang 'pernah' menyayangimu yang tak tertandingi tulusnya.
Menyesal mungkin kau tak sepeka saat itu ketika mencampakkan orang yang tak berujung pedulinya terhadapmu.
Menyesal mungkin kau akan kehilangan seseorang yang telah menyerahkan seluruh hatinya, masa depannya, cintanya hanya demi sedetik melihatmu.

Mungkin kau akan menyesal,
ketika kau menyadari tak ada lagi ruang untukmu disisi hatinya.
Tak ada senyuman tulus,
pertemuan kupu-kupu,
rindu,
dari orang itu.

Karna ketika kau telah menyadarinya sepenuhnya,
orang itu, telah menyadari sepenuhnya telah melepasmu.

Hari ini, kuproklamirkan
kemerdekaanku. Dari segala jajahan
tentangmu.
-orang yang merdeka.






p.s :
ini nyata.
saya memproklamirkannya.
p.s 2 :
saya akan kembali lagi setelah un. karna lagi sibbuuukk