Kamis, 25 Juni 2015

3 thing

The thing i hate about you is :
1.) your smile.
2.) your eyes.
3.) your movement


if you tell me why, here's the answer :
1.) i hate your smile, did you know why? because it's made me require medical. and if you're little brain say why? that's because your eyes give me diabetes. it's too sweet for me. Even one ton sweet and chocolate can't compare with that.
2.) i hate your eyes, you know why? because it's killing me, slowly.  and if you tell me why, that's because heart attack. that eyes--yours--raise my blood pressure.
3.) i hate your movement, you know why? because it's like a hurricane to my heart. i can't handle it. It's breaking me down.

and the best part of my hate for you is, you make my heart fall in love with you.

and the shit part of my heart is, they loving you too hard.

and the best of the best jerk on this planet, who's ever make me fall in love with him --that's you-- , after he make me fall in love, he's go.

and to the man who's ever make me fall--that's the jerk(you)--, thank's. You're smile. you're eyes. you're movement, doesn't killing me anymore.

i'm very happy to be going
back at home.
-anonimous

Kamis, 11 Juni 2015

Only just a dream

November, 2022. 
Munchen, Jerman.

Dengan malas kutatap lantai hijau penuh rerumputan didepanku. Ya, aku sekarang berada disalah satu lapangan terbaik di jerman. Allianz Arena, itulah nama sebutannya. Daridulu, aku memang sangat mencitai Klub bola bermarkas di allianz arena itu, Bayern Munich. Karna suatu khayalan konyol dan alasan bodoh yang kukemukakan. Tak perlu kusebutkan lagi alasannya, pasti tahu kan? Hal bodoh, konyol. Apalagi kalau bukan cinta?.
Sudah lama aku tidak mendengar mantra bodoh itu. C i n t a . Lima huruf yang memporakporandakkan hidup ku selama hampir 7tahun. Klise bukan?
Berawal dari kata pertemuan. Kemudian, beralih pada dua kata yaitu Jatuh dan cinta. Pada saat yang bersamaan. Selanjutnya pada kata sakral yaitu perpisahan. Kurang menyedihkan apalagi?
Dia yang bahkan tak pernah melirikku telah menghancurkan hati kuperkeping-keping. Melenyapkan impian indahku. Mengubur kata bahagia dalam hidupku. Untung saja, para ke 11 sahabatku dengan senang  hati selalu menghiburku. Ohya! Lagipula mana mereka, mereka  telah berjanji ingin nonton pertandingan bersamaku. Namun mana mereka? Bahkan sampai pertandingan berakhirpun mereka tetap tak menunjukkan diri.
Mataku menyisir segala sudut lapangan. Hingga pandanganku berhenti pada seorang yang memakai seragam yang sama dengan jersey klub kesukaanku. Yang dapat kulihat hanya punggung kokoh miliknya. Dia membelakangiku.
Ya tuhan! Dia adalah pemain!! Terbukti banyak fans yang berlari padanya. Dengan cepat aku berlari menuju arahnya. Kudengar tawa nya, kudengar suaranya. Sangat kental. Aku rasa.... Aku selalu mendengarnya. Tentu saja! Aku pasti selalu mendengarnya di televisi. Gerakannya mulai bergerak kebelakang. Dia berbalik. Dia... Berbalik. Nafasku tercekat. Paru-paru ku seakan terkena terpaan angin panas. Jantung ku serasa sudah pergi, lari entah kemana. Sesak. Sesak yang kurasakan.
Wajah itu.
Senyum itu.
Mata itu.
Masih terekam jelas dimataku, pertemuan itu. Rasa itu. Masih sama. Rasa itu masih sama. Tak berkurang sedikitpun. Bahkan.... Perpisahan itu masih sangat jelas diingatanku.
Mata itu menatapku. Mata yang sangat amat kurindukan. Bahkan bertahun-tahun lamanya, mata itu masih sama. Masih dapat membuat ribuan kupu-kupu memasuki ruang di jantungku. Membuatku semakin sesak.
"Ehm, permisi." 
Mataku panas. Tak dapat menahan genangan yang sudah penuh. Beberapa butiran air jatuh, membasahi seluruh pipiku. Mata sembab ku menatap punggung itu. Berjalan menjauh. Namun, sebuah senyum tersungging diwajahku. Kutahu, cerita ku tak seindah cerita yang lainnya. Kalau dia bahkan dapat melupakan ku secepat itu. Lalu mengapa aku tidak? Kalau bahkan dia dapat pergi semudah itu. Mengapa aku tak bisa? 
Dengan lembut kuhentakkan kakiku, memutar balik dari arah perginya. Kalau kau pergi lalu mengapa aku tidak? Aku bahkan dapat pergi lebih jauh dari yang kau kira. 
Kepala ku berbalik.  
Satu langkah
Dua langkah
Tiga
....
Hingga 19 langkah. 
Aku mendengar suara lembut terdengar menggelegar keseluruh lapangan. 
"Hei." Aku berbalik.
Bahkan aku mendapatkan sesak yang jauh lebih menyesakkan. Mataku terbakar. Kakiku seakan tak bertapak lagi. Serasa aku terkena badai pada diriku. 
Kutatap mata itu. Mata yang kurindukan bertahun-tahun lamanya. Senyum itu. Sangat tulus. Matanya mengedip sebelah. Membuatku tak dapat menahan senyumku. Ya, dia adalah..... Dia.
Kutatap yang lainnya. Tentu saja. Dia adalah ke- 11 sahabat konyolku. Senyum khas mereka tersungging diwajah cantik mereka. Para fans itu berada dibelakang nya. Mataku kembali menatap nya -dia-, yang berdiri ditengah-tengah para sahabatku. Tangannya menenteng sebuah hiasan bunga. 
Di belakang mereka semua, kursi penonton. Terlihat banyak bunga menghiasinya. Menuliskan sebuah kata yang membuat mataku semakin panas. Terdapat tulisan "i"di ujung kiri dan tanda hati ditengah serta "u"di kanan.
Dia berjalan mendekat kearahku. Berhenti tepat di hadapanku. Hanya berjarak 2langkah dariku.
"Kau tahu, aku bertahun-tahun menunggu hari ini. Hm,.." Terdapat jeda diantaranya hingga dia bergumam "i...lo.. Love u. yah, just like ich liebe dich." Kutatap wajah gugup itu. Sekali lagi, mataku memanas. Pipiku. Serta seluruh tubuhku.
"Dan mengenai fans-fans itu, aku membayarnya. Aku bukan pemain di klub ini. Aku ceo di salah satu perusahaan. Akan sangat mudah menyewa mereka..." Ucapnya lantang. Seperti biasa, dia selalu arrogant, dingin, sombong. Tapi.. Aku tetap meyukainya.
"Dan.. Mengenai langkah mu, yang 19 itu, kami merencanakannya. Sesuai dengab tanggal lahirmu. Mungkin apabila kau menghitungnya." Lanjutnya panjang lebar. Bahkan dia masih tetap tampan gugup seperti itu.
Aku hanya menatapnya. Tak menggubris segala ucapannya. Masih  terkejut dengan semuanya. Masih tak percaya. Tak terasa sebutir air menetes mengenai pipi ku. Aku menangis. Hanya itulah jawabanku terhadapnya.
"Hei, hei. Jangan menagis. Maafkan aku. Maafkan aku yang membuatmu menunggu selama ini. Maafkan aku yang selalu bersifat dingin terhadapmu. Sifat dinginku hanya untuk menutupi segala kegugupanku. Maafkan aku juga yang baru berani hari ini." Ucapnya membuat air mataku semakin mengalir. Benarkah... Benarkah bahwa selama ini perasaanku terbalaskan? Bahwa aku tak jatuh cinta sendirian? Mungkinkah? Mungkinkah dia juga memendam rasa nya selama ini? Mungkinkah dia benar-benar ....mencintaiku?
"Ya. I love you. Dan itu sangat menyakitkan bagiku." Ucapnya parau.
"Kenapa?"
"Karna membuat tahun tahun dikehidupanku terlewatkan tanpa melihat senyummu. Tanpa melihat wajahmu. Dan apakah kau tahu mengapa aku pergi? Aku pikir dengan pergi menjauhimu akan membuatku tidak mencintaimu. Namun kau tahu? Yang terjadi hanyalah aku yang semakin hari merindukanmu. Semakin hari mencintaimu. Dan sangat menyakitkan bagiku." Lagi-lagi mataku panas. Dia... Merasakan hal sama denganku. Rasa yang sama. Sakit yang sama.
"Dan kau tak perlu menjawabnya, aku tahu jawabannya." Ucapnya dengan senyuman tulusnya. 
"And the last... Will you marry me?" Ucapnya yang seketika terlihat puluhan bola terlempar kelangit. Saat mereka hampir menyentuh langit, mereka meledak. Menjadi ribuan kembang api menghiasi langit malam tersebut. Kembali kutatap matanya, yang masih tetap melihatku. 
Dengan cepat kuanggukkan kepalaku.
"Yes. I will." Suara tiupan terompet berasal dari ke sebelas sahabatku. Mereka tersenyum padaku. Dan aku membalasnya dengan senyuman tertulusku. Aku sangat menyayangi mereka. Dan tentu saja, juga pada pria tampan dihadapanku.


Good friends are hard to find,
Harder to leave,
And impossible to forget. Just like
True love. - unknown.

Minggu, 10 Mei 2015

A simple Lyrics can means so much



Hari itu, hari pementasan...
Semua orang berdatangan. Kalangan orang tua, muda bahkan anak-anak pun semangat mendatangi pementasan itu. Saat dimana tanpa sengaja Aku mengungkapkan segalanya. dihadapan semua orang. Dihadapan mu.
Sebelum detik-detik pementasan, Aku melihatmu duduk diantara ratusan penonton. Tempat dudukmu tidak tepat didepan panggung, namun tetap bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Tak lama, pertunjukan pun dimulai. Kutarik nafasku beberapa kali berusaha menetralisir semua udara yang tiba-tiba terasa hampa. Seluruh mata memandangku. Tak terkecuali satu mata elang yang menatap tepat dimanik mataku. Ribuan mata memandangku, namun hanya mata mu yang membuat darah ku berdesir cepat.Tatapan mata elang yang selama ini kuharapkan dapat memandangku.
Dengan benar kujalani peranku. Dengan baik juga aku berusaha menghilangkan kegugupanku.
 Hingga pada saatnya dimana peranku menuntut ku untuk bersenandung. Kututup mataku. Sedikit demi sedikit ku ucapkan lirik lagu yang telah kuhapal selama beberapa bulan belakangan ini.

Kisahmu harimu ku tau semua
tanpa kau berujar aku selami
Gerakmu guraumu kemasan raga
tanpa kau sadari aku pahami

Sangat realita. Tiap hari, aku selalu melihatmu. menunggumu pergi saat pagi. Menunggumu pulang saat malam. Namun, aku tahu kau tidak menyadari semuanya. Semua tentangmu kupahami. Kumengerti. Kecuali satu, Cintamu. Yang takkan pernah dapat kupahami. Dan mungkin saja takkan pernah kutemui.

Cinta memang mungkin inilah cinta
apapun lagumu aku jiwai
Cinta memang mungkin inilah cinta
tanpa ku miliki rindu terasa

Apakah ini dapat disebut cinta? Kata orang-orang Cinta adalah dua pihak yang saling mencintai. Namun, apabila cuma sepihak apakah masih pantas disebut cinta?

Bukan tak percaya diri
karna aku tau diri

Aku tahu ini hanya sepihak. Mengapa bisa? Karna terlihat jelas diwajahmu. Terbaca jelas ditatapanmu yang berbanding terbalik dengan ekspektasiku.

Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
mengagumimu dari jauh


Kuatkah aku?

Biarkan ku menjaga mu tanpa menjagamu
mengagumi mu dari jauh

Izinkan Aku.
....
 I control my emotions pretty well, but when
you come around they're all over the place.
-unknown



Jumat, 01 Mei 2015

Melupakanmu... (Part 2)


Kubanting pintu dengan keras. Tubuhku kuhempaskan ke kasur kamarku. Dengan kasar kubasuh air mata yang membasahi pipiku. Aku merasakan sesak dalam diriku. Nafasku tersedak. Air mataku mengalir semakin deras. Hatiku benar-benar hancur,  orang yang selama ini kuharapkan telah menyakiti hatiku. Aku baik-baik saja apabila dia mengacuhkanku, mendiamiku, menjauhiku, itu semua tidak pernah menyakiti ku. Namun, saat mengetahui dia yang telah berpaling dariku, seluruh tulang-tulang ku seakan remuk seketika. Melihatnya tertawa bersama yg lain. Matanya yg berbinar menatap yg lain. Serta hatinya yg tertancap pada yg lain. Benar-benar menyakitiku. Hatiku tersayat hancue lebur bagaikan sebuah kertas yg dirobek sedemikian rupa. Nafasku semakin sesak. Mungkin air mataku telahhabis. Mereka sudah berhenti meluncur bebas dari pelupuk mataku. Namun kini hatiku yg semakin menagis. Tangisan yg hanya aku yg dapat mendengarnya. Hanya aku yg dapat mengerti sakitnya. Suara gemuruh terdengar samar ditelingaku. Dengan pelan aku berjalan menuju pintu dan menyandarkan telingaku dibelakangnya.
"Woy jevi! Hahah punya hari apa tidak sih?! Ckckck tega sekali kau berbuat begitu pada sahabatku!" Terdengar suara salah satu sahabatku dengan sigap aku mengintip dibalik jendela kamarku. 
"Sorry, saya tidak mengerti arah pembicaran ini." Terdengar derap langkah menjauh dr tempatku. Jevi telah pergi menjauh.
"Jangan pura-pura sok tidak tahu! Kau benar-benar telah menghancurkan hatinya! Kau tidak punya hati jevi! Kau tidak pernah mengerti perasaan dia!"
"Oh aku sudah tahu arah pembicaraan ini. Pasti mengenai sahabat cupu mu itu! Dengar, aku tidak pernah menyakitinya! Aku tidak suka berada didekatnya! Dia mengganggu ku! Aku tidak suka kalau dia berada didekatku! Dan suruh sahabatmu itu menjauh dariku! Aku tidak suka dengannya! Aku benci!" Kurasa hatiku telah hilang. Kosong. Mendengar orang yg selama ini kucinta berkata begitu seakan menghempaskanku dari gedung tertinggi. 
"Kau jahat Jevi! Kau jahat! Apa kau bilang?! Kau membencinya?! Kau membencinya karna suatu hal yg tidak pernah dia harapkan! kau membencinya karna suatu hal yg tidak bisa dia kendalikan! Kau membenci sahabatku itu karna hal yg murni bukan keinginannya! Kau membencinya karna CINTA jevi! Karna cinta! Andai saja dia dapat memilih siapa yg dapat dia cintai! Tak pernah dia akan mencitai orang sepertimu! Yg tidak pernah memandangnya walau sedikitpun! Yg tidak pernah melihat kebaikannya walau setitik pun! Kau hanya melihat keburukannya, yg sebenarnya niatnya adalah kebaikan! Kau jahat! Jauhi sahabatku! Kau tidak akan pernah pantas bagi sahabatku!" Air mataku goyah, tak dapat kutahan lagi. Sahabatku benar. Betapa bodohnya aku yg mempertahankan cinta yang tak sepantasnya untuk kupertahankan.
"Sebaiknya kau tanya pada sahabat mu itu untuk menjauhi ku! Dan beritahu padanya Aku tidak pernah mencintainua walau sedikitpun! Aku tidak pernah memandangnya walau sedikitpun! Dan aku benci saat ada didekatnya! Hidupku terusik karna kehadirannya yang seperti ulat bulu bagi ku! Sangat mengganggu!" 
*BRAK* aku membanting pintu dengan keras. Kutatap dua bola mata yg melotot kearahku. Jevi yang kelihatan terkejut serta sahabatku yg menatap kasihan. 
"Ya! Aku tahu!  Kau memang benci padaku! Aku minta maaf telah mengganggu hidupmu. Maafkan aku yang telah menjadi ulat bulu bagi hidupumu. Aku minta maaf telah mengusikmu. Maafkan aku yg tidak dapat membaca dirimu yang selama ini tidak menginginkan kehadiranku. Maafkan aku yg tidak dapat membedakan cinta yang tidak menginginkan dan menginginkanku.  Tapi, satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak dapat meminta maaf akan cintaku. Walaupun kau membencinya, tapi cinta bukan lah suatu kesalahan. Cinta adalah anugrah tuhan yang harusnya kujaga dengan baik. Namun dengan mengetahui pengakuanmu, aku mengerti. Aku mengerti bahwa cintaku berlabuh pada hati yang salah. Kau harus tahu, cinta tak pernah salah. Namun, tempat berlabuh nya yang salah.Hati yang tidak mencintaiku. Tenang saja. Mulai saat ini, aku akan menyerah padamu. Aku akan mencari cinta yg lebih menginginkan kehadiran dan ketulusanku. Aku akan.... Menjauh."  Aku sudah tak tahan lagi. Jevilo yg berkata seperti itu membuat hatiku seketika kosong. Tak berisi. Kupu-kupu yg menghiasi perutku saat bertatapan dengan mata nya tak lagi menghiasinya. Serta segala rasa yg kurasakan telah hilang. Aku yakin. Cinta itu telah pergi bersama kata-kata Jevilo. Kata-kata yang menyakitkanku namun membuatku bersyukur dalam waktu bersamaan. 
"Dan terima kasih telah berkata seperti itu padaku. Aku telah kehilangan rasa itu saat ini. Terima kasih." Senyum seketika terhias di bibirku. Kutatap mata jevilo yang masih terpaku. Dengan cepat aku berjalan kembali kedalam kamarku dan menyalakan tv. Hidupku terasa lebih... Bahagia. 

Melupakanmu...

Dihari itu, aku telah berjanji akan melupakan dia...
Hari dimana dia telah membuatku tersadar tentang kehadiranku di hidupnya yang tak pernah dia inginkan...
#flashbackon 3hari sebelum  hari itu terjadi....
------
Selamat pagiii duniaaaa!!!yahh itulah kata yang pertama kali ku ucapkan untuk menyambut mentari pagi, yang telah membangunkanku dengan segala senyuman yang telah dia berikan setiap harinya.
Segera aku berlari menuju kamar mandi yang berada tepat disebelah kamarku itu. Langkah ku terhenti saat melihat jam dinding berwarna pink disamping pintu kamarku yang telah menunjukkan........ PUKUL 06.30!!
----
Aku dikenal sebagai anak baik, pintar, cerewet dan anak yang sangat ceria. Senyum diwajahku tidak pernah pudar kecuali saat jam pelajaran matematika. Saat jam pelajaran matematika duniaku seakan sudah di hancurkan oleh angka-angkanya. Huft. Waktu telah menunjukkan pukul 09.30 menandakan waktu keluar main.
"Ehh keluar main yuk!" kata ku sambil menggandeng teman sebangku ku yang sedang merapikan buku-bukunya.
"Yuk!" jawabnya sambil berjalan bersamaku menuju kantin.
Aku hanya menghabiskan satu potong roti yang kubeli. Aku tidak lapar dan tidak juga haus. Dari kejauhan aku melihat sosok orang yang sangat kusayangi yang setiap senyumanku hanya tercipta untuknya. J e v i l o.
"HAII JEVII!!!" Kataku sambil memberikan senyuman pada jevilo. Perkataanku tak dihiraukan oleh jevilo, bahkan melirikku pun tidak.
Inilah keseharianku. memberi selamat pagi, senyuman, sapaan kepada seseorang yang bahkan tidak pernah melirikku sedikitpun. Walaupun begitu, aku tak pernah menyerah sedikitpun. Sedikitpun tidak pernah.
Aku duduk disamping sahabatku sambil memakan sepotong roti yang sudah hampir habis.
Tawa yang terdengar sangat keras menyelesaikan lamunanku. Yang pasti nya berasal dari ke-11 sahabat-sahabat ku.
"Ehh sabtu nanti kan ada liburan kepulau, barengan ya berangkatnya!!"
"Okkey, sip,!" Jawabku sambil mengacungkan dua jempol kearah sahabat-sahabatku.

----
Sabtu. Hari yang sangat kutunggu-tunggu!. Aku berjalan bersama sahabat-sahabatku mendekati perahu yang akan ku pakai untuk menyebrang ke pulau yang tidak kuketahui apa namanya. Dari kejahuan, aku melihat jevilo yang sedang kesusahan mencari teman kelompoknya. Aku berjalan menemui jevilo sambil berkata " jevi, udah tau kelompok lo dimana?"
"Gak." Jawab nya singkat dengan nada yang tinggi seperti biasa.
"Kita sekelompok." Jawabku yang bersamaan dengan wajah jevilo yang berubah menjadi kesal.
2hari dengan jevilo akan menjadi hari yang tidak boleh terlewatkan bagiku.
Aku mengantar jevilo menuju perahuku, wajahnya yang kusam, dan kesal tiba-tiba berubah menjadi bahagia. Dia berlari menuju tempat duduk disamping seorang perempuan, yang ternyata karna dia jevilo kembali bersemangat lagi.
Seharian aku melihat jevilo bersama perempuan itu terus. Jevilo yang dingin tiba-tiba berubah selama bersama perempuan itu. Tawa dan senyum terhias diwajah jevilo, dia berjalan dipinggir pantai bersama perempuan itu tanpa menghiraukan bahwa aku dan kedua sahabatku sedang duduk dipinggir pantai. Jevilo hanya menatapku sekilas, kemudian dia membuang pandangnya dalam waktu yang bersamaan. Mataku panas melihat dia. Bukan karna sikapnya yang sangat dingin padaku. Namun karna, aku melihat dia yang seakan-akan tidak tahu rasa sakit yang kurasakan. Rasa sakit melihat orang yang kita sayangi ternyata menyukai orang lain. Aku melihat tatapan matanya pada perempuan itu beda dengan tatapan matanya padaku. Tanpa kusadari, air mata jatuh membasahi pipiku yang dengan segera kuhapus dengan punggung tanganku, berharap bahwa sahabatku tidak melihatnya. Air mata yang membasahi pipiku hanyalah bagaikan air yang berada didalam sebuah gelas dan air yang berada dilautan. Tangisan dalam hatiku, bahkan menghasilkan air yang lebih banyak daripada yang ada dilautan.
Bahkan isakan yang ada didalam hatiku melebihi daripada ombak yang menghantam batu karang.
"Ehh udah malam deluannya! Capek!!!" Kataku dengan tersenyum sambil berlari kearah kamarku.

Jumat, 24 April 2015

Surat misterius part 2

Jari-jemariku seakan mau putus....
Tubuh ku seakan mau melayang...
Melihat sesuatu di depanku, memakai baju putih.
Tubuh ku serasa kaku melihatnya. Dia, Dia mengagetkanku. Aku memandang mata nya dengan tajam.
Kutatap wajahnya yang tiba-tiba membawaku untuk mengingat sesuatu yang tak harus kuingat lagi. Sesuatu yang seketika membuyarkan segala ketakutanku. menggantikannya dengan kepedihan. Melihat wajahnya mengharuskanku untuk mengingat masa-masa itu. masa dimana pada saat hari kemarin aku tertawa bahagia melihatnya. namun saat esok hari, aku tidak melihatnya lagi... dan bukan cuma hari esok, hari-hari setelahnya aku tidak melihatnya lagi. dia hilang. dia..... pergi.
Namun, apa yang kulihat sekarang? Dia. Yang pernah hilang. yang pernah pergi. kini telah kembali. membuka kembali sayatan luka pahit yang berusaha ku tutup. dengan sekejab. dengan sebuah tatapan mata, Dia membukanya kembali. memperlihatkan sejuta pilu didalamnya.
Dia yang kulihat kali ini lebih tinggi dari beberapa tahun yang lalu. Rambutnya semakin lebat dan acak-acakan. Rahangnya semakin jelas. Mata gelap sekelam malamnya semakin tajam meninggalkan aura intimidasi didalamnnya. Dia memakai tuksedo putih beserta sebuah dasi pita tergantung dilehernya.
"Hai." APA?! setelah pergi bertahun-tahun hanya itu sapaan ku? bukankah seharusnya aku berkata "apa kabar?" atau "darimana saja kau? aku merindukanmu?" tapi apa? hanya kata itu yang terucap. Setelah bertahun-tahun lamanya, aku masih saja terhipnotis oleh pesonanya. Masih saja gugup saat bertemu dengannya. Masih saja tidak bisa menahan senyumanku apabila aku bertatap dengannya.
"Hai" @#$%^&& hanya HAI?!APAKAH SALAH SATU DARI KALIAN BISA MENGATAKANNYA SEKALI LAGI?!! setelah pergi dan memporakporandakkan hidupku dan menghancurkannya kau hanya berkata HAI? Sini wajah tampanmu itu! mau sekali aku menonjoknya. Apa itu? kau lagi-lagi menunjukkan senyum penuh posonamu dihadapanku dan dengan bodohnya aku lagi-lagi terpesona karnanya. Senyum itu sekali lagi mengingatkanku dengan masalahpembawa bahagiaku waktu dulu. Saat kita dihukum untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kali nya juga, aku jatuh padamu.
"Ehm.. Apa kau baik-baik saja?" Suara beriton itu terngiang telingaku. membuatku gugup untuk melihat wajah tampan pemilik suara.
"ak..aku baik-baik saja. bagaimana denganmu? " Singkat. padat. dan sangat tidak jelas. Bodoh! aku merutuki diriku sendiri. mengapa aku bertanya seperti itu?! Sudah jelas dia tidak apa-apa. Yang diperlu dipertanyakan adalah dirimu sendiri! apakah jantungmu masih ada ditempatnya saat ini?!
"Baguslah. Senang bertemu denganmu," Kurasa jantungku copot dari tempatnya. Kurasakan jantungku berhenti berdetak. Tanganku dingin. Mataku tidak berhenti mengerjab. Ya tuhaan! jangan dulu kau cabut nyawa ku!! aku masih ingin menatap ciptaan mu yang sempurna ini tuhaan!
"Eh? Se-senang bertemu denganmu juga" Berusaha kuhilangkan senyum yang terpampang jelas diwajah ku yang membahana ini. Bagaimana mungkin orang yang kuanggap dingin dan sangat membenci ku berkata bahwa dia senang bertemu denganku? Kuingat kembali masa-masa laluku, masa dimana dia selalu berpaling saat kumenatapnya, Saat pandangan kami menyatu dia memancarkan mata yang sekelam malam seakan aku tak pantas dipandangnya. Saat dimana aku berbicara padanya dia mengacuhkanku. Saat dimana aku selalu berjuang, namun....... Aku tercampakkan. tak kurasa sebutir air membasahi pipi mungilku. Ya, aku menangis. mengingat kejadian menyedihkan itu. Andai dapat kuputar waktu, aku berharap aku tidak terhukum waktu itu. Mencegah diriku jatuh cinta padanya.
Tes.. Tes...Tes.. dan semakin deras. Hah? mengapa air mataku sebanyak ini? Bahkan membasahi jalan tempatku berdiri. Kuarahkan pandanganku kelangit malam yang sudah terpenuhi dengan butiran air hujan. Lagi-lagi aku teringat pada kejadian ku pada masa lalu. Saat aku selalu bertemu dengannya saat hujan. Dimana aku dapat melihatnya, Tanpa tatapan sekelam malamnya yang tertutupi oleh Butiran air hujan yang menerpa. Mulai saat itu aku selalu bahagia pada hujan. Mencintai hujan. Namun hingga suatu hal menyadarkanku, bahwa hanya aku yang berjuang dan yang kuperjuangkan telah pergi menjauh. Saat itu, air hujan tetap kucintai tapi pada alasan lain, yaitu hanya saat hujan lah aku dapat menangis sekencang-kencangnya karna tidak ada seorangpun yang dapat menyadarinya. Saat itulah aku dapat berteriak sebesar-besarnya karna tertutupi oleh gemuruh suara air hujan yang menabrak batu. Kutatap dia yang telah basah terkena hujan. Dengan sigap aku segera membalikkan tubuhku mencari tempat berteduh. Namun sebuah tangan melingkar dilengan kecilku. Tangan dingin, kokoh dan sangat kuat.
"Tetaplah disini. Aku ingin melihatmu. tanpa tatapan jahatku seperti dulu. Melihatmu bagaikan kau adalah orang terpenting dalam hidupku. Maafkan aku. Aku terlambat. Aku baru menyadarinya sekarang. Aku telah menemukannya. Orang yang daridulu selalu kuperlakukan tidak baik namun tetap berbuat baik padaku. Orang yang selalu kuberikan tatapan dingin namun dia selalu memberiku tatapan hangat. Orang yang selalu berjuang padaku namun selalu kucampakkan. Orang yang selalu mencintaiku...... namun aku selalu menyakitinya. Aku terlambat! Aku terlambat menyadarinya. Aku terlambat menyadari jantungku yang selalu berdetak saat kau melihatku, Kupu-kupu yang terbang diperutku saat kau tersenyum padaku. Aku terlambat menyadari air mata yang jatuh tanpa sebab dikarenakan olehmu. Oleh dirimu yang jauh dariku. Aku terlambat menyadari bahwa aku...... Jatuh padamu. Lagi dan lagi. Walaupun aku berusaha menghilangkannya. Menyingkirkan rasa yang tidak dapat kudeskripsikan itu. Mereka seperti hujan yang terjadi saat ini. It falls over and over again. Like my love to you, where ever i go, what ever i do it still falls. Like rain drops." Aku menganga mendengar penuturannya. Ternyata selama ini cintaku berbalas. Rindu yang kupendam terpendam pula olehnya. Cinta yang tertanam, tertanam pula olehnya. Dan perjuangan yang kuperjuangkan terperjuangkan pula olehnya,
"Aku bersyukur akan keterlambatanku. Tuhan membuat kita jauh satu sama lain agar kita dapat merasakan pedihnya jarak itum agar saat kita dipertemukan kita tidak berpisah lagi. Agar kita tidak merasakan kepedihan itu lagi. Kepedihan yang kupendam bertahun-tahun membuatku merasakan sepi sepanjang hari membuat sebagian dari diriku hilang. Hati yang harusnya engkau tempati terasa hampa tanpa kehadiranmu. Jadi.... Maukah kau mengisi kembali ruang hatiku yang hampa tanpa mu? Membuatku tidak merasakan kepedihan yang membunuh ku itu?" Air mataku bebas membasahi jalanan bersatu dengan air hujan yang menjadi saksi bisu kebahagiaan kami.
"Yes.. I will." Ucapku menatap matanya tidak lagi memancarkan kebencian namun, Kebahagiaan.


Bersyukurlah dengan takdir tuhan.
Sebab Tuhan selalu punya rencana untuk 
memberikan takdir yang terbaik.
-MrsRain

Setitik embun di Palestina

plissyaaa jangan diplagiat:)
-karya:sucisultan-
Lagi-lagi roket kiriman dari tentara israel menghampiri tanah ku yang suci ini, Palestina. Tempat yang dulu dimana bersama bersama kedua orang tuaku, adikku, dan sahabat- sahabatku. Kini menjadi tempat dimana aku harus melihat satu demi satu dari mereka gugur demi membela kemerdekaan kota ini. Hari demi hari kulalui dengan penuh luka dan tangis. Kota yang sekarang telah hancur karna keegoisan dan keserakaan orang-orang dari negri seberang, Israel. Yang telah menghancurkan kota ini dengan serangan roket dan bom yang mereka kirim kepada kota Gaza ini.
 Kini, Aku berada di salah satu mesjid yang mungkin akan menjadi target pengeboman selanjutnya. Aku mungkin sudah terbiasa dengan kepergian sahabat-sahabatku, tetangga-tetanggaku serta anak anak yang menjadi korban kejahatan kaum Zionis. Tapi kali ini, aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sedih dan tangis akan kepergian Ayahku yang membekaskan luka yang sangat dalam di hatiku. Tubuhku terasa sangat kaku dan hilang rasa dengan melihat tepat didepan mataku orang yang sangat kucintai itu terkena ledakan roket yang disusul dengan darah yang berceceran diwajahnya. Langkahnya yang mendekat padaku yang telah berlari secepat mungkin untuk menghampirinya, Dia terjatuh tepat dibawah pangkuan adikku, Raihan. Raihan adalah adik laki-laki ku yang masih berumur 14 tahun dan telah menjadi tentara untuk membela dan menjaga kota Palestina ini. Aku menghapus darah dari wajah ayaku yang berceceran yang kini telah mengotori baju putihku ini.
"ayah bertahanlah! aku akan memanggil bantuan untuk ayah, bertahanlah ayah!" kataku segera berdiri dan mencari bantuan dari dokter atau orang lain. Akan tetapi, langkahku terhenti karna Lenganku ditahan oleh ayahku.
"Aisyah! Tidak usah mencarikan ku bantuan. bantuan medis dsini sangatlah kurang. Lebih banyak orang yang lebih mementingkannya dari pada ayah. Izinkan lah mereka yang mendapatkan bantuan itu!Dengarlah Aisyah, berjanjilah kepada Ayah! Lindungi lah Ummi dan adikmu Raihan. dan jagalah tanah Palestina ini, Lindungilah mesjid Al- Aqsha, Lindungi dan jagalah Agama Allah. BIRRUH, BIDDAM,'ABDIKA YA AQHSA!". "DEMI RUHKU, DEMI DARAHKU UNTUKMU WAHAI AL-AQHSA.". itulah kata terakhir yang diucapkan oleh ayahku, sebelum dia menutup matanya untuk selamanya. Genggaman tangannya yang melemah dari tanganku, Matanya yang tertutup dan berhentinya detakan jantungnya yang membuatku semakin meneteskan air mata. Kesedihanku menjadi semakin bertubi-tubi. Aku merasa sangat kaku. Penglihatanku semakin buram, dan yang terkhir kali kulihat hanyalah senyuman yang terukir diwajah Ayahku disertai cahaya yang berjalan mendekat, mendekati ayahku.
•••
Assalamualaikum warahmatullah, Assalamualaikum warahmatullah.
"Sudahlah, Aisyah. Janganlah terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, Ikhlaskan kepergian ayahmu dan doa'akanlah dia, agar diterima disisi allah Swt. Kata nenekku yang terus-terusan memberikanku semangat dan kekuatan agar aku bisa merelakan kepergian ayahku. Semalam, kata raihan aku pingsan tepat setelah bantuan datang. Aku menanyakan tentang cahaya itu, tapi kata raihan tidak ada cahaya apapun, mungkin itu adalah cahaya dari mobil ambulance yang datang. Tapi, menurutku itu mungkin adalah cahaya yang datang dari allah, yang datang menjemput roh ayahku yang berjihad dijalannya. Aku bersandar dibahu nenekku yang disampingnya ada Ummi ku yang kulihat sedang menutupi wajahnya yang mungkin sudah memerah karna dari selamalam dia menangis. Kami telah melaksanakan sholat jenazah yang tak lain jenazah nya adalah ayahku sendiri. Aku yakin mungkin inilah yang terbaik yang allah berikan kepada kami dan keluargaku. Ayahku adalah penghafal qur'an yang telah menghafal tiga puluh juz al-qur'an, selama hidupnya dia adalah orang yang sangat baik dan bijaksana. Maka tidak salah,kami mencium bau yang sangat wangi yang berasal dari jasad nya. Subhanallah. Aku semakin yakin akan cahaya yang kulihat tadi malam bukan hanya cahaya mobil ambulance. Aku yakin cahaya itu berasal dari Allah Rabb yang Maha Agung. Aku akan menepati semua janji ku kepada Ayah. Aku akan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Bahkan seluruh jiwa dan ragaku akan melindungi Mereka. Melindungi Ummi, Raihan, Al-Aqsha,Islam dan tanah ini, Palestina, Insya Allah.

*tobecontinued*