Jumat, 03 Juli 2015

Jadi, nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan? (PART 1)



 Hehe, ini ceritanya mau dikirim buat lomba cerpen ramadhan:)


Karya : dzs
"Aku benci! Aku benci hidup ini tuhan!"
            Gadis itu segera meninggalkan ruangan itu, berharap semakin jauh ia melangkah, menjauh pula kebenciannya pada kehidupan yang sedang dijalaninya ini.
            Ketika kaki jenjangnya telah menapak pada jalanan aspal, seketika fikirannya kembali pada keadaannya beberapa saat yang lalu. Hampir dalam waktu yang bersamaan, dia telah kehilangan kepercayaan sahabat dan orang tuanya, orang-orang yang selalu ada didekatnya saat ia membutuhkan sebuah pundak untuk bersandar.
            Saat tiba dirumahnya, Sasha mendapat Ayahnya sedang berbincang-bincang diruang keluarga bersama ibunya. Saat tatapan mereka bertemu, Sasha segera membuang pandangan kearah yang lain.
            "Sasha!" Sasha hanya menggubris ucapan itu.
            "Sasha,mungkin suatu hari kau akan sadar, apa yang ayah lakukan saat ini, adalah yang terbaik bagimu."
            Sasha hanya berlari, meninggalkan kedua pasang mata itu menatapnya sendu. Ia bersandar pada balik pintu sambil meneteskan setitik air mata yang segera ditepisnya.
            Tanpa disadarinya, kedua kakinya berjalan menuju kamar mandi. Tanpa atas seizinnya, jari-jari lentiknya memutar keran, kemudian, membasuh kedua telapak tangannya, lalu berkumur-kumur. Tanpa dapat dikontrolnya, dirinya berwudhu begitu saja, seakan sesuatu yang lain dapat mengontrol dirinya, lebih dari kemampuannya pada dirinya sendiri.
            Jari-jemari itu, mengambil mukena dan menggeraikan sejadah. Langit malam itulah menjadi saksi akan segelap dan sekeras apapun hati seorang manusia, namun, apabila setitik cahaya ingin meneranginya, bahkan segelap apapun pasti kegelapan itu akan terkalahkan olehnya. Lalu,  sekeras apapun benteng itu, tetap dapat teruntuhkan oleh sebuah iman yang berasal dari sang maha pemberi petunjuk. Tanpa disangkanya, bibirnya melinsankan niat hendak sholat malam, yang telah bertahun-tahun tak dikerjakannya itu. Selain bibir, ada suara lain yang berteriak dalam dirinya, yang sekeras apapun suara itu berteriak, hanya sang pencipta lah dan sang pemilik suara lah yang dapat mendengarkannya. Itulah sang iblis. Sang iblis yang meronta kepanasan akibat melihat korbannya berusaha untuk melepaskan diri.
            Tak dapat dibendungnya lagi, mata itu meneteskan air mata. Takut akan amarah sang penguasa. Memohon ampun atas dirinya yang berlumur dosa.
            Akibat hari melelahkan itu yang membuatnya meninggalkan sahabatnya yang menganggapnya berubah, serta dirinya yang beradu mulut bersama kedua orang tuanya menyuruhnya untuk pindah sekolah, tidak dapat dikuasainya lagi, seketika kantuk menguasai tubuhnya. Mata itu seketika terpejam,  membuat tubuh itu ambruk membentur empuknya sajadah. Lalu seketika semuanya menjadi gelap.
***
            Kantuk gadis itu hilang seketika, saat merasakan dinginnya terpaan angin menampar tubuh kecilnya. Matanya mengerjab-ngerjab berusaha mentralisir cahaya matahari yang berombongan menyinarinya. Tangan gadis itu dengan pelan menyentuh sesuatu lembut dibawahnya. Saat kesadarannya telah penuh, saat itu juga dia bangkit dari tempat nya. Kemudian menyadari suatu hal, dia tidak berada dikamarnya. Namun, disuatu tempat seperti hutan yang tidak diketahuinya berada dimana.
            "Diam ditempat!"
            Sasha seketika bungkam tak berbicara apapun saat menyadari dia telah dikepung oleh puluhan orang yang memakai setelan tempur, mengacungkannya panah yang sangat berbeda. Ujung nya seperti berasal dari tulang yang sudah diasah. Salah satu diantara mereka telah berdiri dihadapan Sasha, mengacungkan benda itu lebih dekat hingga membuat leher Sasha dingin, bersentuhan dengan panah itu.
            "Siapa namamu?! Berani-beraninya kau melakukan hal itu ditempat kami!!"
            Sasha kemudian mengamati telunjuk pemimpin itu, membuatnya tersadar akan keadaannya yang masih memakai kudung sholat serta kakinya bertapak pada sajadah nya semalam.
            "Aku tidak menyangka ada seorang gadis muslim yang berani melaksanakan ibadah ditempat kami"
            "Tempat kami?"
            "Ya, Aku lah pemimpin penantang kalian! Cepat bakar dia!" Perintah pemimpin itu pada salah satu bawahannya. Membuat bawahan itu segera menyeret Sasha dengan seringainya.
            "Lepaskan aku! Kumohon! Lep--"
            Dalam sekejab, bawahan yang menyeret Sasha jatuh ambruk tepat dihadapan Sasha bersama dengan sebuah anak panah menancap di dada nya. Membuat yang lainnya siap siaga, serta pemimpin itu menggertakkan giginya kesal. Kemudian riuhan suara senjata yang saling berterbangan memenuhi kesunyian hutan itu, beberapa dari mereka mati dan beberapa lainnya kabur menghindari kematian.
            "Siapa namamu?"
            Suara itu membuat Sasha seakan berhenti bernapas, kemudian matanya mendapatkan sepasang mata hitam yang menatapnya lekat.
            "A-aku tidak tahu." Jawab Sasha. Dia tidak berbohong sama sekali, karna memang dia tidak mengetahui dirinya siapa disini, dan bagaimana dia bisa berada disini.
            "Bagaimana kau bisa tidak tahu siapa dirimu?"
            "Aku tidak tahu."
            "Dimana rumahmu?"
            "Aku tidak tahu."
            Kemudian pria bertopeng serta berbaju zirah itu berjalan menjauh, mendekati kuda putih yang ditungganginya.
            "Apakah kau tidak ingin ikut?" Ucap salah satu dari mereka mengacungkan tangannya, kemudian mengangkat Sasha naik ketumpangan kudanya.
            Saat tiba disalah satu yang Sasha tahu dari Majdah --penunggang yang memberinya tumpangan-- adalah tempat yang disebut "Serdadu Islam", dia langsung saja menarik nafas lega, setidaknya dia berada ditempat yang aman. Serta kedatangannya disambut sangat baik oleh penduduk disini.
            Yang Sasha ketahui adalah, dia berada disalah satu era dimana orang-orang memerangi agama Islam. Serta pria yang menanyakan namanya tadi, adalah ketua peperangan diarea pertahanan dan keamanan, Zerya Pramudya. Kata Majdah, perkemahan ini terbagi menjadi beberapa area, yang pertama yaitu area pertahanan dan keamanan, Majdah berada diarea tersebut.Yang kedua area kesehatan dan medis, disitulah para dokter dan para perawat berada. Selanjutnya, area makanan dan pangan, para wanita dan orang tua bekerja disana, selain membuatkan makanan, mereka mencari bahan makanan dihutan. Selama Sasha belum mengetahui cara ia pulang kerumah, ia akan dengan senang hati berada di area ketiga. Setelah rela jari hasil menicure dan pedicure nya akan kotor akibat bahan makanan.
            Setelah Majdah memberikannya beberapa pakaian, Sasha segera mengganti mukenahnya menjadi pakaian yang menurutnya tidak layak pakai. Rajutannya tidak jelas, dan berasal dari kulit sapi. Namun apalah daya, mukenah Sasha telah hancur tidak beraturan serta pakaian yang dikenakannya tidak sesuai dengan keadaan yang ada disini. Setidaknya saat pulang kerumah nanti, dia bisa meminta ayah membelikannya gaun rancangan langsung dari Perancang busana terkenal di Paris.
            "Aku memilihmu untuk ikut diareaku."
            "A-area? Maksud mu, aku ikut berperang?" Sasha menjawab pertanyaan Zerya yang tiba-tiba duduk disampingnya.
            "Ya."
            Kemudian dia pergi, meninggalkan Sasha yang pening akibat penuturannya.
            "Dia sudah mengumumkan mengenai areamu, semoga kau beruntung."ucap Majdah membuat Sasha segera berbalik menatapnya.
            "Tapi aku tidak bisa. Ini terlalu cepat bagiku."
            "Zerya adalah pria yang bijaksana, Sasha. Apapun yang diperintahkannya untukmu, itulah yang terbaik bagimu. Saat dulu, kedatangannya juga sama sepertimu." Majdah menatap Sasha lekat. Kemudian melanjutkan, "Kami dulu menemukannya dihutan, karna kecerdasannya membuat strategi perang, kami mengangkatnya menjadi pemimpin kami. Namun, setelah hampir 3 tahun tinggal disini, tidak satupun dari kami yang mengetahui masa lalunya."
            Sasha menelan ludahnya pelan, ternyata ada seseorang yang senasib dengannya, dan dia adalah Zerya Pramudya.
****
         Lanjut ke part 2 ya!

Kamis, 25 Juni 2015

3 thing

The thing i hate about you is :
1.) your smile.
2.) your eyes.
3.) your movement


if you tell me why, here's the answer :
1.) i hate your smile, did you know why? because it's made me require medical. and if you're little brain say why? that's because your eyes give me diabetes. it's too sweet for me. Even one ton sweet and chocolate can't compare with that.
2.) i hate your eyes, you know why? because it's killing me, slowly.  and if you tell me why, that's because heart attack. that eyes--yours--raise my blood pressure.
3.) i hate your movement, you know why? because it's like a hurricane to my heart. i can't handle it. It's breaking me down.

and the best part of my hate for you is, you make my heart fall in love with you.

and the shit part of my heart is, they loving you too hard.

and the best of the best jerk on this planet, who's ever make me fall in love with him --that's you-- , after he make me fall in love, he's go.

and to the man who's ever make me fall--that's the jerk(you)--, thank's. You're smile. you're eyes. you're movement, doesn't killing me anymore.

i'm very happy to be going
back at home.
-anonimous

Kamis, 11 Juni 2015

Only just a dream

November, 2022. 
Munchen, Jerman.

Dengan malas kutatap lantai hijau penuh rerumputan didepanku. Ya, aku sekarang berada disalah satu lapangan terbaik di jerman. Allianz Arena, itulah nama sebutannya. Daridulu, aku memang sangat mencitai Klub bola bermarkas di allianz arena itu, Bayern Munich. Karna suatu khayalan konyol dan alasan bodoh yang kukemukakan. Tak perlu kusebutkan lagi alasannya, pasti tahu kan? Hal bodoh, konyol. Apalagi kalau bukan cinta?.
Sudah lama aku tidak mendengar mantra bodoh itu. C i n t a . Lima huruf yang memporakporandakkan hidup ku selama hampir 7tahun. Klise bukan?
Berawal dari kata pertemuan. Kemudian, beralih pada dua kata yaitu Jatuh dan cinta. Pada saat yang bersamaan. Selanjutnya pada kata sakral yaitu perpisahan. Kurang menyedihkan apalagi?
Dia yang bahkan tak pernah melirikku telah menghancurkan hati kuperkeping-keping. Melenyapkan impian indahku. Mengubur kata bahagia dalam hidupku. Untung saja, para ke 11 sahabatku dengan senang  hati selalu menghiburku. Ohya! Lagipula mana mereka, mereka  telah berjanji ingin nonton pertandingan bersamaku. Namun mana mereka? Bahkan sampai pertandingan berakhirpun mereka tetap tak menunjukkan diri.
Mataku menyisir segala sudut lapangan. Hingga pandanganku berhenti pada seorang yang memakai seragam yang sama dengan jersey klub kesukaanku. Yang dapat kulihat hanya punggung kokoh miliknya. Dia membelakangiku.
Ya tuhan! Dia adalah pemain!! Terbukti banyak fans yang berlari padanya. Dengan cepat aku berlari menuju arahnya. Kudengar tawa nya, kudengar suaranya. Sangat kental. Aku rasa.... Aku selalu mendengarnya. Tentu saja! Aku pasti selalu mendengarnya di televisi. Gerakannya mulai bergerak kebelakang. Dia berbalik. Dia... Berbalik. Nafasku tercekat. Paru-paru ku seakan terkena terpaan angin panas. Jantung ku serasa sudah pergi, lari entah kemana. Sesak. Sesak yang kurasakan.
Wajah itu.
Senyum itu.
Mata itu.
Masih terekam jelas dimataku, pertemuan itu. Rasa itu. Masih sama. Rasa itu masih sama. Tak berkurang sedikitpun. Bahkan.... Perpisahan itu masih sangat jelas diingatanku.
Mata itu menatapku. Mata yang sangat amat kurindukan. Bahkan bertahun-tahun lamanya, mata itu masih sama. Masih dapat membuat ribuan kupu-kupu memasuki ruang di jantungku. Membuatku semakin sesak.
"Ehm, permisi." 
Mataku panas. Tak dapat menahan genangan yang sudah penuh. Beberapa butiran air jatuh, membasahi seluruh pipiku. Mata sembab ku menatap punggung itu. Berjalan menjauh. Namun, sebuah senyum tersungging diwajahku. Kutahu, cerita ku tak seindah cerita yang lainnya. Kalau dia bahkan dapat melupakan ku secepat itu. Lalu mengapa aku tidak? Kalau bahkan dia dapat pergi semudah itu. Mengapa aku tak bisa? 
Dengan lembut kuhentakkan kakiku, memutar balik dari arah perginya. Kalau kau pergi lalu mengapa aku tidak? Aku bahkan dapat pergi lebih jauh dari yang kau kira. 
Kepala ku berbalik.  
Satu langkah
Dua langkah
Tiga
....
Hingga 19 langkah. 
Aku mendengar suara lembut terdengar menggelegar keseluruh lapangan. 
"Hei." Aku berbalik.
Bahkan aku mendapatkan sesak yang jauh lebih menyesakkan. Mataku terbakar. Kakiku seakan tak bertapak lagi. Serasa aku terkena badai pada diriku. 
Kutatap mata itu. Mata yang kurindukan bertahun-tahun lamanya. Senyum itu. Sangat tulus. Matanya mengedip sebelah. Membuatku tak dapat menahan senyumku. Ya, dia adalah..... Dia.
Kutatap yang lainnya. Tentu saja. Dia adalah ke- 11 sahabat konyolku. Senyum khas mereka tersungging diwajah cantik mereka. Para fans itu berada dibelakang nya. Mataku kembali menatap nya -dia-, yang berdiri ditengah-tengah para sahabatku. Tangannya menenteng sebuah hiasan bunga. 
Di belakang mereka semua, kursi penonton. Terlihat banyak bunga menghiasinya. Menuliskan sebuah kata yang membuat mataku semakin panas. Terdapat tulisan "i"di ujung kiri dan tanda hati ditengah serta "u"di kanan.
Dia berjalan mendekat kearahku. Berhenti tepat di hadapanku. Hanya berjarak 2langkah dariku.
"Kau tahu, aku bertahun-tahun menunggu hari ini. Hm,.." Terdapat jeda diantaranya hingga dia bergumam "i...lo.. Love u. yah, just like ich liebe dich." Kutatap wajah gugup itu. Sekali lagi, mataku memanas. Pipiku. Serta seluruh tubuhku.
"Dan mengenai fans-fans itu, aku membayarnya. Aku bukan pemain di klub ini. Aku ceo di salah satu perusahaan. Akan sangat mudah menyewa mereka..." Ucapnya lantang. Seperti biasa, dia selalu arrogant, dingin, sombong. Tapi.. Aku tetap meyukainya.
"Dan.. Mengenai langkah mu, yang 19 itu, kami merencanakannya. Sesuai dengab tanggal lahirmu. Mungkin apabila kau menghitungnya." Lanjutnya panjang lebar. Bahkan dia masih tetap tampan gugup seperti itu.
Aku hanya menatapnya. Tak menggubris segala ucapannya. Masih  terkejut dengan semuanya. Masih tak percaya. Tak terasa sebutir air menetes mengenai pipi ku. Aku menangis. Hanya itulah jawabanku terhadapnya.
"Hei, hei. Jangan menagis. Maafkan aku. Maafkan aku yang membuatmu menunggu selama ini. Maafkan aku yang selalu bersifat dingin terhadapmu. Sifat dinginku hanya untuk menutupi segala kegugupanku. Maafkan aku juga yang baru berani hari ini." Ucapnya membuat air mataku semakin mengalir. Benarkah... Benarkah bahwa selama ini perasaanku terbalaskan? Bahwa aku tak jatuh cinta sendirian? Mungkinkah? Mungkinkah dia juga memendam rasa nya selama ini? Mungkinkah dia benar-benar ....mencintaiku?
"Ya. I love you. Dan itu sangat menyakitkan bagiku." Ucapnya parau.
"Kenapa?"
"Karna membuat tahun tahun dikehidupanku terlewatkan tanpa melihat senyummu. Tanpa melihat wajahmu. Dan apakah kau tahu mengapa aku pergi? Aku pikir dengan pergi menjauhimu akan membuatku tidak mencintaimu. Namun kau tahu? Yang terjadi hanyalah aku yang semakin hari merindukanmu. Semakin hari mencintaimu. Dan sangat menyakitkan bagiku." Lagi-lagi mataku panas. Dia... Merasakan hal sama denganku. Rasa yang sama. Sakit yang sama.
"Dan kau tak perlu menjawabnya, aku tahu jawabannya." Ucapnya dengan senyuman tulusnya. 
"And the last... Will you marry me?" Ucapnya yang seketika terlihat puluhan bola terlempar kelangit. Saat mereka hampir menyentuh langit, mereka meledak. Menjadi ribuan kembang api menghiasi langit malam tersebut. Kembali kutatap matanya, yang masih tetap melihatku. 
Dengan cepat kuanggukkan kepalaku.
"Yes. I will." Suara tiupan terompet berasal dari ke sebelas sahabatku. Mereka tersenyum padaku. Dan aku membalasnya dengan senyuman tertulusku. Aku sangat menyayangi mereka. Dan tentu saja, juga pada pria tampan dihadapanku.


Good friends are hard to find,
Harder to leave,
And impossible to forget. Just like
True love. - unknown.

Minggu, 10 Mei 2015

A simple Lyrics can means so much



Hari itu, hari pementasan...
Semua orang berdatangan. Kalangan orang tua, muda bahkan anak-anak pun semangat mendatangi pementasan itu. Saat dimana tanpa sengaja Aku mengungkapkan segalanya. dihadapan semua orang. Dihadapan mu.
Sebelum detik-detik pementasan, Aku melihatmu duduk diantara ratusan penonton. Tempat dudukmu tidak tepat didepan panggung, namun tetap bisa membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Tak lama, pertunjukan pun dimulai. Kutarik nafasku beberapa kali berusaha menetralisir semua udara yang tiba-tiba terasa hampa. Seluruh mata memandangku. Tak terkecuali satu mata elang yang menatap tepat dimanik mataku. Ribuan mata memandangku, namun hanya mata mu yang membuat darah ku berdesir cepat.Tatapan mata elang yang selama ini kuharapkan dapat memandangku.
Dengan benar kujalani peranku. Dengan baik juga aku berusaha menghilangkan kegugupanku.
 Hingga pada saatnya dimana peranku menuntut ku untuk bersenandung. Kututup mataku. Sedikit demi sedikit ku ucapkan lirik lagu yang telah kuhapal selama beberapa bulan belakangan ini.

Kisahmu harimu ku tau semua
tanpa kau berujar aku selami
Gerakmu guraumu kemasan raga
tanpa kau sadari aku pahami

Sangat realita. Tiap hari, aku selalu melihatmu. menunggumu pergi saat pagi. Menunggumu pulang saat malam. Namun, aku tahu kau tidak menyadari semuanya. Semua tentangmu kupahami. Kumengerti. Kecuali satu, Cintamu. Yang takkan pernah dapat kupahami. Dan mungkin saja takkan pernah kutemui.

Cinta memang mungkin inilah cinta
apapun lagumu aku jiwai
Cinta memang mungkin inilah cinta
tanpa ku miliki rindu terasa

Apakah ini dapat disebut cinta? Kata orang-orang Cinta adalah dua pihak yang saling mencintai. Namun, apabila cuma sepihak apakah masih pantas disebut cinta?

Bukan tak percaya diri
karna aku tau diri

Aku tahu ini hanya sepihak. Mengapa bisa? Karna terlihat jelas diwajahmu. Terbaca jelas ditatapanmu yang berbanding terbalik dengan ekspektasiku.

Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
mengagumimu dari jauh


Kuatkah aku?

Biarkan ku menjaga mu tanpa menjagamu
mengagumi mu dari jauh

Izinkan Aku.
....
 I control my emotions pretty well, but when
you come around they're all over the place.
-unknown



Jumat, 01 Mei 2015

Melupakanmu... (Part 2)


Kubanting pintu dengan keras. Tubuhku kuhempaskan ke kasur kamarku. Dengan kasar kubasuh air mata yang membasahi pipiku. Aku merasakan sesak dalam diriku. Nafasku tersedak. Air mataku mengalir semakin deras. Hatiku benar-benar hancur,  orang yang selama ini kuharapkan telah menyakiti hatiku. Aku baik-baik saja apabila dia mengacuhkanku, mendiamiku, menjauhiku, itu semua tidak pernah menyakiti ku. Namun, saat mengetahui dia yang telah berpaling dariku, seluruh tulang-tulang ku seakan remuk seketika. Melihatnya tertawa bersama yg lain. Matanya yg berbinar menatap yg lain. Serta hatinya yg tertancap pada yg lain. Benar-benar menyakitiku. Hatiku tersayat hancue lebur bagaikan sebuah kertas yg dirobek sedemikian rupa. Nafasku semakin sesak. Mungkin air mataku telahhabis. Mereka sudah berhenti meluncur bebas dari pelupuk mataku. Namun kini hatiku yg semakin menagis. Tangisan yg hanya aku yg dapat mendengarnya. Hanya aku yg dapat mengerti sakitnya. Suara gemuruh terdengar samar ditelingaku. Dengan pelan aku berjalan menuju pintu dan menyandarkan telingaku dibelakangnya.
"Woy jevi! Hahah punya hari apa tidak sih?! Ckckck tega sekali kau berbuat begitu pada sahabatku!" Terdengar suara salah satu sahabatku dengan sigap aku mengintip dibalik jendela kamarku. 
"Sorry, saya tidak mengerti arah pembicaran ini." Terdengar derap langkah menjauh dr tempatku. Jevi telah pergi menjauh.
"Jangan pura-pura sok tidak tahu! Kau benar-benar telah menghancurkan hatinya! Kau tidak punya hati jevi! Kau tidak pernah mengerti perasaan dia!"
"Oh aku sudah tahu arah pembicaraan ini. Pasti mengenai sahabat cupu mu itu! Dengar, aku tidak pernah menyakitinya! Aku tidak suka berada didekatnya! Dia mengganggu ku! Aku tidak suka kalau dia berada didekatku! Dan suruh sahabatmu itu menjauh dariku! Aku tidak suka dengannya! Aku benci!" Kurasa hatiku telah hilang. Kosong. Mendengar orang yg selama ini kucinta berkata begitu seakan menghempaskanku dari gedung tertinggi. 
"Kau jahat Jevi! Kau jahat! Apa kau bilang?! Kau membencinya?! Kau membencinya karna suatu hal yg tidak pernah dia harapkan! kau membencinya karna suatu hal yg tidak bisa dia kendalikan! Kau membenci sahabatku itu karna hal yg murni bukan keinginannya! Kau membencinya karna CINTA jevi! Karna cinta! Andai saja dia dapat memilih siapa yg dapat dia cintai! Tak pernah dia akan mencitai orang sepertimu! Yg tidak pernah memandangnya walau sedikitpun! Yg tidak pernah melihat kebaikannya walau setitik pun! Kau hanya melihat keburukannya, yg sebenarnya niatnya adalah kebaikan! Kau jahat! Jauhi sahabatku! Kau tidak akan pernah pantas bagi sahabatku!" Air mataku goyah, tak dapat kutahan lagi. Sahabatku benar. Betapa bodohnya aku yg mempertahankan cinta yang tak sepantasnya untuk kupertahankan.
"Sebaiknya kau tanya pada sahabat mu itu untuk menjauhi ku! Dan beritahu padanya Aku tidak pernah mencintainua walau sedikitpun! Aku tidak pernah memandangnya walau sedikitpun! Dan aku benci saat ada didekatnya! Hidupku terusik karna kehadirannya yang seperti ulat bulu bagi ku! Sangat mengganggu!" 
*BRAK* aku membanting pintu dengan keras. Kutatap dua bola mata yg melotot kearahku. Jevi yang kelihatan terkejut serta sahabatku yg menatap kasihan. 
"Ya! Aku tahu!  Kau memang benci padaku! Aku minta maaf telah mengganggu hidupmu. Maafkan aku yang telah menjadi ulat bulu bagi hidupumu. Aku minta maaf telah mengusikmu. Maafkan aku yg tidak dapat membaca dirimu yang selama ini tidak menginginkan kehadiranku. Maafkan aku yg tidak dapat membedakan cinta yang tidak menginginkan dan menginginkanku.  Tapi, satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak dapat meminta maaf akan cintaku. Walaupun kau membencinya, tapi cinta bukan lah suatu kesalahan. Cinta adalah anugrah tuhan yang harusnya kujaga dengan baik. Namun dengan mengetahui pengakuanmu, aku mengerti. Aku mengerti bahwa cintaku berlabuh pada hati yang salah. Kau harus tahu, cinta tak pernah salah. Namun, tempat berlabuh nya yang salah.Hati yang tidak mencintaiku. Tenang saja. Mulai saat ini, aku akan menyerah padamu. Aku akan mencari cinta yg lebih menginginkan kehadiran dan ketulusanku. Aku akan.... Menjauh."  Aku sudah tak tahan lagi. Jevilo yg berkata seperti itu membuat hatiku seketika kosong. Tak berisi. Kupu-kupu yg menghiasi perutku saat bertatapan dengan mata nya tak lagi menghiasinya. Serta segala rasa yg kurasakan telah hilang. Aku yakin. Cinta itu telah pergi bersama kata-kata Jevilo. Kata-kata yang menyakitkanku namun membuatku bersyukur dalam waktu bersamaan. 
"Dan terima kasih telah berkata seperti itu padaku. Aku telah kehilangan rasa itu saat ini. Terima kasih." Senyum seketika terhias di bibirku. Kutatap mata jevilo yang masih terpaku. Dengan cepat aku berjalan kembali kedalam kamarku dan menyalakan tv. Hidupku terasa lebih... Bahagia. 

Melupakanmu...

Dihari itu, aku telah berjanji akan melupakan dia...
Hari dimana dia telah membuatku tersadar tentang kehadiranku di hidupnya yang tak pernah dia inginkan...
#flashbackon 3hari sebelum  hari itu terjadi....
------
Selamat pagiii duniaaaa!!!yahh itulah kata yang pertama kali ku ucapkan untuk menyambut mentari pagi, yang telah membangunkanku dengan segala senyuman yang telah dia berikan setiap harinya.
Segera aku berlari menuju kamar mandi yang berada tepat disebelah kamarku itu. Langkah ku terhenti saat melihat jam dinding berwarna pink disamping pintu kamarku yang telah menunjukkan........ PUKUL 06.30!!
----
Aku dikenal sebagai anak baik, pintar, cerewet dan anak yang sangat ceria. Senyum diwajahku tidak pernah pudar kecuali saat jam pelajaran matematika. Saat jam pelajaran matematika duniaku seakan sudah di hancurkan oleh angka-angkanya. Huft. Waktu telah menunjukkan pukul 09.30 menandakan waktu keluar main.
"Ehh keluar main yuk!" kata ku sambil menggandeng teman sebangku ku yang sedang merapikan buku-bukunya.
"Yuk!" jawabnya sambil berjalan bersamaku menuju kantin.
Aku hanya menghabiskan satu potong roti yang kubeli. Aku tidak lapar dan tidak juga haus. Dari kejauhan aku melihat sosok orang yang sangat kusayangi yang setiap senyumanku hanya tercipta untuknya. J e v i l o.
"HAII JEVII!!!" Kataku sambil memberikan senyuman pada jevilo. Perkataanku tak dihiraukan oleh jevilo, bahkan melirikku pun tidak.
Inilah keseharianku. memberi selamat pagi, senyuman, sapaan kepada seseorang yang bahkan tidak pernah melirikku sedikitpun. Walaupun begitu, aku tak pernah menyerah sedikitpun. Sedikitpun tidak pernah.
Aku duduk disamping sahabatku sambil memakan sepotong roti yang sudah hampir habis.
Tawa yang terdengar sangat keras menyelesaikan lamunanku. Yang pasti nya berasal dari ke-11 sahabat-sahabat ku.
"Ehh sabtu nanti kan ada liburan kepulau, barengan ya berangkatnya!!"
"Okkey, sip,!" Jawabku sambil mengacungkan dua jempol kearah sahabat-sahabatku.

----
Sabtu. Hari yang sangat kutunggu-tunggu!. Aku berjalan bersama sahabat-sahabatku mendekati perahu yang akan ku pakai untuk menyebrang ke pulau yang tidak kuketahui apa namanya. Dari kejahuan, aku melihat jevilo yang sedang kesusahan mencari teman kelompoknya. Aku berjalan menemui jevilo sambil berkata " jevi, udah tau kelompok lo dimana?"
"Gak." Jawab nya singkat dengan nada yang tinggi seperti biasa.
"Kita sekelompok." Jawabku yang bersamaan dengan wajah jevilo yang berubah menjadi kesal.
2hari dengan jevilo akan menjadi hari yang tidak boleh terlewatkan bagiku.
Aku mengantar jevilo menuju perahuku, wajahnya yang kusam, dan kesal tiba-tiba berubah menjadi bahagia. Dia berlari menuju tempat duduk disamping seorang perempuan, yang ternyata karna dia jevilo kembali bersemangat lagi.
Seharian aku melihat jevilo bersama perempuan itu terus. Jevilo yang dingin tiba-tiba berubah selama bersama perempuan itu. Tawa dan senyum terhias diwajah jevilo, dia berjalan dipinggir pantai bersama perempuan itu tanpa menghiraukan bahwa aku dan kedua sahabatku sedang duduk dipinggir pantai. Jevilo hanya menatapku sekilas, kemudian dia membuang pandangnya dalam waktu yang bersamaan. Mataku panas melihat dia. Bukan karna sikapnya yang sangat dingin padaku. Namun karna, aku melihat dia yang seakan-akan tidak tahu rasa sakit yang kurasakan. Rasa sakit melihat orang yang kita sayangi ternyata menyukai orang lain. Aku melihat tatapan matanya pada perempuan itu beda dengan tatapan matanya padaku. Tanpa kusadari, air mata jatuh membasahi pipiku yang dengan segera kuhapus dengan punggung tanganku, berharap bahwa sahabatku tidak melihatnya. Air mata yang membasahi pipiku hanyalah bagaikan air yang berada didalam sebuah gelas dan air yang berada dilautan. Tangisan dalam hatiku, bahkan menghasilkan air yang lebih banyak daripada yang ada dilautan.
Bahkan isakan yang ada didalam hatiku melebihi daripada ombak yang menghantam batu karang.
"Ehh udah malam deluannya! Capek!!!" Kataku dengan tersenyum sambil berlari kearah kamarku.