Jumat, 03 Juli 2015

Jadi, nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan? (PART 2)


  
 "Sasha!! Lari dan selamatkan pasukan!!"
            Gadis yang sedang memegang pedang itu kemudian berbalik, matanya menatap sepasang mata coklat menatapnya sendu. Beberapa bulan yang lalu, saat Zerya memilihnya untuk berada diarea perang, bermulai dari situlah, kebiasaan  bermake up, tas mahal, serta waktu yang menghabiskan berbelanja di mall, tidak lagi ada dalam dirinya.
            Sasha benar-benar telah melupakan masa lalunya, gaun mahalnya telah berganti menjadi baju zirah yang kuat. Tas bernilai ratusan juta tidak lagi menghiasi jari-jarinya, hanya sebuah pedang tajam yang siap menembus tubuh musuh-musuhnya yang ada disana.
            Setiap hari, dia berada dipacuan kudanya, membela agama yang sepantasnya dilakukannya sejak dulu.. Setiap ada prajurit yang gugur di medan pertempuran, biasa dia mencium bau harum dari mayat mereka, membuatnya sadar, akan semahal apapun parfum yang dipakainya, tidak akan bisa membuatnya wangi di kubur nanti.
            "Sasha! Awas!"
            Sasha terlalu lambat untuk menyadari, bahwa sebuah pedang telah tertancap dijantungnya. Hal terakhir yang dilihatnya adalah, Zerya menatapnya dengan senyuman. Kemudian segalanya menjadi gelap.
***
            "Dimana aku? Apakah ini alam baka?"
            Sasha mengerjabkan mata nya berkali-kali, menyadari bahwa dia berada ditempat yang gelap tak bercahaya, segera dia bangkit dan berdiri dari tempatnya.
            "Bukan."ucap sebuah suara menjawab. Suara yang persis dengan suara Sasha.
            "Siapa kau?"
            "Aku?" tanya suara tanpa wujud itu, "Aku adalah kamu."
            "Aku? Jangan bermain-main denganku! Beritahu aku sekarang, dimana aku?!"
            "Kau... berada dimana dirimu berada. Sisi tergelap dalam dirimu."
            "Si--Sisi.....tergelap?"
            "Ya, kau berada disisi tergelap dalam dirimu." Sasha memegangi kepalanya, berusaha mencerna segala hal yang di dengar nya. "Ya, aku adalah kejahatan dalam dirimu."Lanjut suara itu membuat Sasha bergidik ngeri.
            "Aku tidak jahat!"
            "Kau jahat, Sasha. Orang-orang membencimu! Orang tua mu membencimu! Sahabat-sahabat mu membencimu! Kau tahu kenapa? Karna sikap egois dalam dirimu telah mengalahkan sifat malaikatmu! Tidak ada yang menyukaimu! Mereka tidak pernah mengharapkan kau hidup!"
            Sasha kemudian mengingat menegenai orang tuanya yang selalu bertengkar karenanya. Membuatnya benar-benar menyesal telah hidup dimuka bumi.
            "Tidak! Tidak! Orang tuaku menyayangiku!! Sahabat-sahabatku menyukaiku!"
            "Apa? Kau bilang menyayangimu?" ada jeda diantaranya, kemudian suara itu kembali melanjutkan,  "Apakah orang tuamu akan tetap menyayangimu setelah kau membanting pintu dihadapannya? Setelah kau membuatnya kewalahan dengan sikap borosmu itu? Apakah sahabat yang kau anggap sahabat itu akan menyayangimu saat mereka mengetahui kau bahkan menceritakan kejelekannya pada orang lain? Mengadu dombanya dengan orang lain? Kemudian kau datang seolah menjadi malaikat penengah diantara mereka walaupun sebenarnya kau adalah iblis yang berdandan layaknya malaikat?"Suara itu dengan nada meremehkan.
            Sasha kemudian mengingat-ingat segala perbuatan nya pada kedua orang tuanya, dia benar-benar menyesal dengan apapun perbuatannya. Dia menyesal. Segala yang dilakukannya agar demi ia tenar dan terkenal, namun tanpa disengajanya, dia telah kehilangan orang-orang yang disayanginya, membuat mereka kecewa akan kehadirannya.
            "Tapi bukankah itu adalah keinginanmu? Ayolah ikutlah bersamaku, kau akan mendapatkan ketenaran dan kebahagiaanmu. Serta orang-orang yang disekitarmu akan hidup tenang tanpamu."
            Seketika ada sebuah tangan yang muncul dihadapannya, namun keadaan masih tetap gelap gulita. Sasha menatap lengan itu, dia benar ini semua yang Sasha inginkan. Saat lengannya hampir sampai menyentuh lengan itu, seketika sekelibatan ingatan tentangnya beberapa tahun lalu hadir diingatannya, saat dimana Sasha melaksanakan sholat tahajud, meminta kepada Allah agar dia lulus ujian sambil menangis tersedu-sedu, saat dia melihat kedua orang tuanya tersenyum serta menangis haru melihatnya memegang piala kejuaraan lomba matematika saat smp, dan saat Sasha sedang tertawa bersama sahabat-sahabatnya makan diwarteg. Ingatan itu, membuat Sasha rindu. Membuatnya rindu akan dirinya yang dulu, tanpa segala hal bermerek yang tidak berharga itu.
            "Aku tidak akan ikut denganmu."
            "Kenapa?! Lalu kau akan kembali pada mereka?! Mereka tidak akan pernah menyayangimu! Mereka tidak akan pernah memaafkan kejahatanmu!"
            "Apabila mereka tidak memaafkanku, setidaknya aku ingin meminta maaf pada tuhanku. Dan aku yakin, pintu maaf tuhanku akan selalu terbuka bagiku!" tempat itu sunyi seketika, hanya terdengar suara deruhan nafas Sasha yang tidak beraturan.  "Dan kau tahu kenapa aku tidak mau ikut denganmu? Karna kau bukan aku. Kaulah sang iblis, yang akan membuat ku terperangkap pada perangkap mu." Lanjutnya.
            Saat itu juga, Sasha mengangkat kedua tangannya, meminta maaf pada yang maha penerima taubat, membuat sang Iblis berteriak meronta-ronta kepanasan. Kemudian, setitik cahaya menerangi mereka, mengalahkan sang kegelapan. Membuat Sasha menutup matanya karna cahaya itu bersinar terlalu terang memasuki indra penglihatannya.
****
            "Sasha! Mesjid udah mau adzan, ayo nanti telat sholat idul fitrinya!"
            Setetes air membasahi pipi gadis itu, betapa dirindukannya suara lembut itu. Kemudian, dia beranjak dari tempat tidurnya, berlari membuka pintu kamar lalu memeluk Ibunya erat.
            "tunggu 5 menit lagi , Sasha turun."
Beberapa menit kemudian, Sasha turun dari kamarnya yang berada dilantai dua menuju ayah dan ibunya yang sedang duduk diruang tamu. Mereka seketika saling menatap lalu saling bertukar senyum satu sama lain, saat melihat anak tunggal mereka kembali menjadi Sasha yang mereka rindukan. Rambut lembut gadis itu telah tertutupi kain berwarna putih, pakaian meriah serta make up tebal tergantikan menjadi pakaian sederhana dan wajah  alami tak bermake up.
            Setelah melaksanakan sholat id, Sasha menentukan untuk berjalan kaki pulang dari mesjid agar bertemu dengan sahabatnya lalu meminta maaf mereka, yang langsung dioleh hangatnya pelukan mereka. Saat langkahnya ingin memasuki pagar rumah, suara bariton menghancurkan lamunan Sasha, membuat langkahnya seketika berhenti, "Sasha?" ucap sosok tampan berbaju koko serta songkok itu.
            Kepalanya terlalu terlambat mencerna bahwa seseorang dihadapannya adalah seseorang yang sangat ingin ditemuinya sekarang. Tanpa disangkanya, bibirnya bergumam, "Zerya?!"

Karna tulang rusuk pemiliknya, tidak akan pernah
menjadi tulang rusuk orang lain.
-anonimous.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar